
JAKARTA, WartaMetropolitan.com – Lebih dari 55 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia. Angka ini diproyeksikan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada tahun 2050. Namun, sebagian besar kasus ini mungkin dapat dicegah.
Menurut ahli saraf, psikiater geriatri dan peneliti demensia, hampir setengah dari semua kasus demensia dapat dihindari atau ditunda dengan menangani beberapa faktor risiko yang dapat dimodifikasi sejak dini dan secara konsisten sepanjang hidup.
Para ahli menekankan bahwa beberapa faktor risiko, seperti genetika, mungkin berada di luar kendali, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa faktor gaya hidup dan lingkungan dapat ditindaklanjuti sekarang untuk melindungi otak seiring bertambahnya usia.
Ahli saraf Lila Landowski mengatakan kepada Newsweek bahwa tujuh persen demensia berkaitan dengan gangguan pendengaran, tujuh persen dengan tekanan darah LDL tinggi, lima persen dengan pendidikan rendah, dan lima persen dengan isolasi sosial.
Ia menambahkan bahwa faktor risiko “seperlima”—masing-masing tiga persen—meliputi depresi, cedera otak traumatis, dan polusi udara.
“Hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan merokok di usia paruh baya secara signifikan meningkatkan risiko demensia,” ujar Dr. Barbara Sparacino, seorang psikiater dewasa dan geriatri yang dikenal sebagai The Aging Parent Coach.
“Saya sering memberi tahu pasien: ‘Apa yang melindungi jantung Anda biasanya melindungi otak Anda,” ujar dia lagi.
Hubungan tersebut didukung oleh data global terbaru. Sebuah studi pada 2024 yang diterbitkan The Lancet Commission mengonfirmasi bahwa kolesterol tinggi dan hipertensi di usia paruh baya merupakan salah satu faktor paling berpengaruh terhadap timbulnya demensia.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa menangani 14 faktor risiko yang dapat dimodifikasi—termasuk kondisi vaskular—dapat mencegah atau menunda 45 persen kasus demensia di seluruh dunia.
Sparacino mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan angka-angka “ambang batas” pada tes kesehatan rutin, menekankan bahwa mengobati tekanan darah, gula darah, dan kolesterol mungkin menjadi salah satu cara jangka panjang yang paling ampuh untuk menurunkan risiko demensia.
Faktor Risiko Demensia
- Gangguan Pendengaran
Gangguan pendengaran yang tidak diobati dinilai sebagai faktor risiko demensia yang kuat dan dapat dicegah. “Ketika Anda tidak dapat mendengar dengan baik, otak Anda bekerja lembur hanya untuk menguraikan suara,” kata Sparacino. “Orang sering menarik diri secara sosial. Kombinasi peningkatan beban kognitif ditambah isolasi ini berdampak buruk pada otak seiring waktu.”
Landowski setuju. Ia mengatakan bahwa gangguan pendengaran mempersulit seseorang untuk bersosialisasi, melakukan aktivitas, dan mempertahankan kemandirian mereka, dan akibatnya, dalam beberapa kasus, fungsi kognitif mereka. Menangani gangguan pendengaran sejak dini—melalui alat bantu dengar, implan koklea, atau alat bantu—dapat memberikan dampak yang terukur.
- Keterputusan Sosial
Kesepian, isolasi, dan kurangnya keterlibatan kognitif dapat mengikis kesehatan otak seiring waktu. “Otak adalah organ sosial dan pembelajaran,” kata Sparacino.
“Anda tidak perlu permainan otak yang mewah—cukup percakapan rutin, membaca, menjadi sukarelawan, kelas, komunitas, dan hobi, semuanya sudah termasuk latihan kognitif yang bermakna,” ujar dia lagi.
- Depresi dan Stres Kronis
Kesehatan mental bukan hanya emosional—tetapi juga struktural, dan depresi serta stres kronis yang berkepanjangan dapat mengubah otak secara fisik. “Pada lansia, depresi yang terus-menerus dapat menyerupai demensia dan meningkatkan kerentanan terhadapnya,” kata Sparacino.
Ia mendorong keluarga untuk memperlakukan gangguan suasana hati sebagai kondisi medis yang esensial, alih-alih masalah tambahan. “Mengatasi suasana hati dan stres [adalah] bagian penting dalam melindungi kesehatan otak,” ujar dia.
Stres meningkatkan kortisol, hormon esensial yang jika berlebihan dalam jangka waktu kronis dapat membahayakan. Kadar kortisol yang tinggi secara kronis berkaitan dengan peradangan dan gangguan kognisi.
Dr. Aaron Ritter, direktur Program Gangguan Memori dan Kognitif di Hoag’s Pickup Family Neurosciences Institute, mengatakan kepada Newsweek bahwa gangguan suasana hati yang tidak diobati dapat berkontribusi pada “inefisiensi otak” dan meningkatkan risiko demensia seiring waktu.
- Ketidakaktifan Fisik
Mungkin variabel yang paling sering diabaikan adalah gerakan. “Gerakan mendukung aliran darah, mengurangi risiko vaskular, dan membantu menjaga volume dan fungsi otak,” kata Sparacino. “Kami tidak bertujuan untuk latihan maraton—hanya gerakan yang konsisten dan dapat dilakukan.
Sparacino merekomendasikan jalan kaki, kardio ringan, latihan kekuatan, dan keseimbangan hampir setiap hari dalam seminggu. Dr. Amy Sanders—seorang ahli saraf di Sunday Health—menjelaskan ketidakaktifan fisik, terutama bila disertai pola makan yang buruk atau kekurangan vitamin esensial, sebagai ancaman utama terhadap fungsi kognitif.
“Terlibat dalam latihan aerobik dan latihan kekuatan secara teratur adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi risiko demensia,” ujar Sanders kepada Newsweek. “Latihan ini meningkatkan kesehatan kardiovaskular, aliran darah ke otak, dan dapat mengurangi peradangan.”
“Pola makan yang tinggi lemak jenuh, gula, karbohidrat olahan, dan makanan ultra-olahan juga dikaitkan dengan risiko penurunan kognitif dan penyakit Alzheimer yang lebih tinggi.”







