JAKARTA, wartametropolitan.com – Jika Anda khawatir tentang kemampuan anak untuk fokus atau mengikuti pelajaran secara akademis, Anda tidak sendirian.

Ahli neurologi terkenal dunia, Dr. Majid Fotuhi, MD, Ph.D. mengatakan bahwa kekhawatiran tersebut sepenuhnya valid.

“Yang diperhatikan orang tua bukanlah bahwa anak-anak ‘kurang mampu’ tetapi bahwa otak mereka dibentuk oleh lingkungan yang secara alami tidak mendukung fokus yang mendalam, keseimbangan emosional, atau konsolidasi memori,” kata Fotuhi.

Fotuhi, yang merupakan profesor adjung di Universitas Johns Hopkins dan penulis buku The Invincible Brain (terbit Maret 2026), mengatakan bahwa otak anak-anak saat ini berada di bawah tekanan yang lebih besar daripada generasi sebelumnya.

Salah satu tantangan terbesar adalah ekonomi perhatian modern. Video yang serba cepat, notifikasi yang terus-menerus dan konten yang digerakkan oleh algoritma melatih otak untuk mencari imbalan instan, sehingga mempertahankan perhatian di kelas terasa sangat sulit.

Pada saat yang sama, anak-anak tidur lebih sedikit, bergerak lebih sedikit, dan merasakan tekanan akademis yang lebih besar daripada generasi sebelumnya.

Dari sudut pandang neurologis, ini penting karena jaringan otak yang bertanggung jawab atas perhatian, pengaturan emosi, dan fungsi eksekutif masih dalam tahap pembangunan sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.

“Jaringan-jaringan ini sangat sensitif terhadap masukan gaya hidup. Ketika otak terus-menerus terlalu terstimulasi, kurang istirahat, dan stres, jaringan-jaringan ini menjadi tidak efisien—bukan rusak, tetapi kurang terlatih,” kata Fotuhi.

Ini menjelaskan mengapa seorang anak dapat fokus secara intens pada permainan video tetapi mungkin kesulitan dengan pekerjaan rumah matematika.

“Kapasitas otak bersifat dinamis. Otak dapat melemah di bawah tekanan, tetapi juga dapat menguat dengan masukan yang tepat,” tutur Fotuhi.

Faktor gaya hidup memainkan peran penting dalam proses tersebut. Kurang tidur yang tidak teratur membuat otak menjadi kabur dan impulsif.

Diet yang kaya akan makanan ultra-olahan dapat mengganggu aliran darah dan meningkatkan peradangan. Stres kronis mendorong otak ke mode bertahan hidup, mengecilkan pusat memori dan membuat pembelajaran lebih sulit.

Kurangnya aktivitas fisik juga mengurangi faktor pertumbuhan otak yang mendukung perhatian dan keseimbangan emosional.

Kabar baiknya, kata Fotuhi, adalah efek ini dapat dipulihkan. Berdasarkan penelitian dan pekerjaan klinisnya, dia merekomendasikan lima langkah praktis yang dapat dilakukan orang tua untuk memperkuat otak anak mereka selama delapan hingga 12 minggu.

“Kuncinya adalah konsistensi dan struktur,” kata Fotuhi.

“Perubahan kecil, yang dilakukan setiap hari, dapat membentuk kembali jaringan otak dengan sangat cepat. Otak tidak tetap. Seperti otot, otak merespons pelatihan dan perawatan,” ujar dia lagi.

Cara Memperkuat Otak Anak

  1. Waktu Tidur
    orang tua dapat berupaya menstabilkan tidur anak. Tetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten, bahkan di akhir pekan dan singkirkan layar setidaknya satu jam sebelum tidur.
  2. Nutrisi
    Beri nutrisi yang tepat untuk otak. Dorong konsumsi makanan kaya protein, sayuran, buah-buahan, lemak sehat, dan biji-bijian utuh.

“Kurangi camilan ultra-olahan dan minuman manis. Anggap makanan sebagai bahan bakar otak, bukan hanya kalori,” kata Fotuhi.

  1. Olahraga
    Berolahraga setiap hari ternyata diperlukan. Usahakan untuk melakukan aktivitas fisik selama 30 hingga 60 menit setiap hari, baik melalui olahraga, berjalan kaki, bersepeda atau bermain aktif.
  2. Buat Jadwal Kegiatan
    Ciptakan struktur di rumah. “Gunakan jadwal visual, rutinitas yang jelas, dan periode kerja dan istirahat yang terdefinisi,” kata Fotuhi.

“Prediktabilitas menurunkan stres dan membebaskan sumber daya kognitif untuk belajar,” ujar dia lagi.

  1. Latih Otak
    Latih otak secara sengaja. Permainan memori kerja, latihan perhatian, praktik kesadaran dan pelatihan dalam pengorganisasian atau manajemen waktu dapat secara langsung memperkuat jaringan kognitif.

“Ketika langkah-langkah ini digabungkan dan dipersonalisasi, orang tua sering melihat peningkatan yang berarti dalam waktu delapan hingga 12 minggu—tidak hanya dalam prestasi sekolah, tetapi juga dalam kepercayaan diri, keseimbangan emosional, dan keharmonisan keluarga,” ucap Fotuhi.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *