
JAKARTA, wartametropolitan.com – Kekhawatiran mendalam pernah menyelimuti Ratu Elizabeth II saat keselamatan putra sulungnya, Raja Charles III berada dalam ancaman serius pada masa lalu.
Peristiwa tersebut terjadi menjelang upacara penobatan Charles sebagai Pangeran Wales pada 1969 di Kastil Caernarfon, Wales barat laut. Acara megah itu dirancang menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya disiarkan melalui televisi berwarna.
Namun di balik kemegahan itu, situasi keamanan justru memanas. Ketegangan meningkat seiring konflik di Irlandia Utara, yang memicu ancaman dari kelompok separatis Wales terhadap lokasi acara. Sejumlah ledakan bom dilaporkan terjadi di sekitar area, bahkan menewaskan dua pria yang terlibat dalam aksi tersebut setelah bahan peledak yang mereka pasang meledak lebih awal.
Kondisi tersebut membuat keluarga kerajaan berada dalam tekanan besar, terutama sang Ratu yang disebut sangat mengkhawatirkan keselamatan putranya.
Sejarawan kerajaan, Robert Hardman, mengungkapkan situasi mencekam itu dalam sebuah pernyataan.
“Itu adalah momen yang sangat menegangkan. Hanya beberapa bulan kemudian, masalah dimulai lagi di Irlandia Utara,” jelasnya.
“Itu terjadi di seluruh dunia—baru saja terjadi pembunuhan Martin Luther King dan Bobby Kennedy di Amerika. Orang-orang benar-benar gugup, khawatir tentang arah yang dituju dunia.”
Ketegangan global dan ancaman terorisme saat itu memperburuk kondisi psikologis Ratu. Ia disebut hampir mengalami gangguan saraf akibat tekanan yang dihadapi.
“Ratu selalu berpandangan bahwa jika sesuatu terjadi padanya, dia akan hidup dengannya—mati dengannya,” jelasnya.
“Itu sudah menjadi bagian dari konsekuensinya. Tetapi ini adalah ancaman terorisme terhadap putranya, acaranya, dan keluarganya. Setelah itu, Charles pergi tur ke Wales. Ratu kembali ke London untuk beristirahat, membatalkan semua acara untuk minggu itu. Sangat, sangat tidak seperti dirinya.”
“Dia seharusnya pergi ke Final Wimbledon, memiliki berbagai pesta kebun, dan acara lainnya. Semuanya dibatalkan.”
Secara resmi, pihak istana menyebut kondisi Ratu saat itu disebabkan oleh flu. Namun, sumber lain menyebut kondisi sebenarnya lebih serius.
“Seseorang yang sangat dekat dengan timnya memberi tahu saya bahwa itu bukan flu, melainkan kelelahan saraf.”
“Saya rasa Anda tidak bisa menyebutnya gangguan saraf sepenuhnya, karena dia kembali bertugas hanya lebih dari seminggu kemudian – tetapi itu adalah hal yang paling mendekati gangguan saraf.”
Peristiwa ini menjadi gambaran betapa tekanan keamanan dan situasi global kala itu memberikan dampak besar, bahkan kepada sosok pemimpin monarki yang dikenal tegar sekalipun.





