JAKARTA, wartametropolitan.com – Film tidak hanya semata sarana hiburan saja. Di balik alur cerita dan visual yang ditampilkan, film menyimpan nilai penting sebagai jejak perjalanan budaya dan identitas bangsa. Kesadaran inilah yang mendorong lahirnya gerakan penyelamatan arsip film nasional.

Upaya tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional yang digelar di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail pada Kamis (16/4/2026). Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai pelaku industri hingga lembaga internasional.

Dalam konteks ini, Sinematek Indonesia memegang peran penting sebagai lembaga yang selama ini menjadi pusat penyimpanan karya-karya sinema nasional. Ribuan film yang tersimpan di dalamnya merekam dinamika sosial, budaya, hingga perjalanan sejarah Indonesia.

Ketua Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Sonny Pudjisasono, menegaskan bahwa film harus dipahami sebagai bagian dari artefak budaya yang menyimpan memori kolektif bangsa.

“Budaya tidak boleh dilupakan. Salah satu aspek penting adalah pengarsipan, karena di situlah ingatan kolektif bangsa disimpan. Ada dua hal yang perlu kita pahami bersama, yakni aspek hukum dan kearsipan. Keduanya sangat penting untuk menjaga dan mengembalikan memori bangsa kepada masyarakat,” kata Sonny Pudjisasono.

Dijelaskannya, kerja sama lintas lembaga ini menjadi momentum penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus membuka ruang bagi para kreator. Acara ini pun dihadiri Dr. Uri Tadmor dari De Gruyter Brill (Belanda) dan Orlando Bassi dari Restorasi Film Lab DFD Movie Studio Bali, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) Fauzan Zidni, Sekretaris YPPHUI Heidy Hemia, Kepala Sinematek Indonesia Farry Hanief dan Kepala Perpustakaan Perfilman Maya Sutanti.

“Film adalah medium suara masyarakat tempat mereka bercerita, menyampaikan harapan, dan merekam perjalanan bangsa,” ujar Sonny Pudjisasono.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Film Musik dan Seni Kementerian Kebudayaan RI, Irini Dewi Wanti, yang menekankan pentingnya pelestarian film sebagai bagian dari sejarah nasional.

“Pengarsipan dan penyelamatan film sangat penting untuk menjaga sejarah dan kebudayaan kita. Film adalah alat penjaga kebudayaan untuk masa depan. Digitalisasi memang penting, tetapi prosesnya sangat cepat. Sementara itu, pelestarian film analog tetap diperlukan agar kualitas dan keaslian karya dapat terjaga,” ucap Irini Dewi Wanti.

Gerakan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga arsip film sebagai warisan budaya. Dengan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, diharapkan memori visual bangsa dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *