
JAKARTA, wartametropolitan.com – Pamela Anderson kembali membuka kisah kelam dalam hidupnya saat menerima penghargaan Award of Courage dari amfAR di Venesia. Aktris asal Kanada itu mengenang bagaimana diagnosis hepatitis C yang diterimanya lebih dari dua dekade lalu sempat membuatnya merasa masa depan hidupnya telah dibatasi.
Penghargaan tersebut diberikan dalam gala amfAR yang berlangsung di Hilton Molino Stucky, Venesia, Minggu (6/9/2026), bertepatan dengan rangkaian Festival Film Venesia. Dalam kesempatan itu, Anderson mengungkap pengalaman ketika dirinya pertama kali mengetahui penyakit tersebut pada 2002.
Saat itu, dokter menyampaikan prognosis yang membuat Anderson terpukul. Ia bahkan mendapat gambaran bahwa hidupnya mungkin hanya tersisa sekitar satu dekade.
“Itu adalah vonis mati. Itulah yang dikatakan dokter kepada saya, bahwa saya mungkin hanya punya waktu sekitar 10 tahun untuk hidup,” kata Anderson.
Anderson kemudian menjelaskan bahwa dirinya tertular hepatitis C setelah berbagi jarum tato dengan mantan suaminya, Tommy Lee. Diagnosis tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi fisiknya, tetapi juga mengubah cara perempuan berusia 59 tahun itu menjalani kehidupan.
Kekhawatiran terbesar Anderson kala itu bukan semata-mata tentang kematian. Ia justru memikirkan nasib anak-anaknya yang masih kecil dan bagaimana kehidupannya akan berlangsung setelah mengetahui dirinya mengidap hepatitis C.
“Saya yakin hal itu memengaruhi dan merusak keputusan-keputusan saya. Bukan rasa takut akan kematian yang saya rasakan, melainkan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi pada anak-anak saya yang masih kecil. Hal itu benar-benar mengubah hidup saya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut juga meninggalkan beban emosional yang panjang. Anderson menghubungkan rasa malu dan bersalah akibat penyakit yang dideritanya dengan trauma yang pernah dialami ketika masih kecil.
“Namun, pengalaman rasa malu dan bersalah itu juga merupakan perjalanan bawah sadar. Hal itu terus melekat pada diri saya; terus menghantui saya. Dan sama seperti pelecehan seksual yang saya alami saat kecil, rasanya seolah-olah ada cap yang terukir di dahi saya: ‘Barang rusak’. Dan begitulah cara saya memandang diri sendiri,” tuturnya.
Harapan kemudian muncul ketika pengobatan hepatitis C tersedia pada 2011. Anderson mengumumkan dirinya telah terbebas dari hepatitis C pada 2015. Namun, proses tersebut juga memiliki konsekuensi finansial besar karena biaya pengobatan disebut menghabiskan hampir seluruh tabungannya ketika itu.
Meski mengaku pengalaman tersebut belum sepenuhnya pulih secara emosional, Anderson mengatakan dirinya kini telah berdamai dengan masa lalu. Ia bahkan menjadikan perjalanan hidup tersebut sebagai bagian dari proses kebangkitan kariernya di industri film.
Dalam beberapa tahun terakhir, Anderson kembali tampil dalam sejumlah proyek layar lebar. Di antaranya The Last Showgirl, The Naked Gun, Rosebush Pruning, serta film Place to Be yang dijadwalkan tayang perdana di festival pada Rabu (9/9/2026).
Kebangkitan karier tersebut menjadi bagian dari perjalanan Anderson untuk melihat dirinya secara berbeda setelah melewati berbagai pengalaman sulit. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak lagi ingin ditempatkan sebagai sosok yang tidak berdaya.
“Aku kuat dan cakap, jauh lebih hebat daripada yang pernah kubayangkan. Aku bukan gadis yang tak berdaya dan butuh pertolongan, betapapun mudahnya peran itu dimainkan. Aku bukan korban. Aku seorang pemenang.”
Penghargaan Award of Courage yang diterima Anderson diserahkan langsung oleh Taika Waititi, yang juga menjadi lawan mainnya dalam film Place to Be. Bagi Anderson, penghargaan tersebut menjadi salah satu penanda perjalanan panjangnya dalam menghadapi masa lalu sekaligus melanjutkan kehidupan dan kariernya.





