
BANDUNG, wartametropolitan.com — Upaya membangun masa depan anak yatim dan dhuafa tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pendidikan, pembentukan karakter, kemampuan membaca Al-Qur’an hingga keterampilan menjadi bekal penting agar mereka mampu tumbuh menjadi generasi hebat yang berilmu, berakhlak, terampil, mandiri dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hal itu menjadi bagian dari fokus Rumah Yatim dalam menjalankan program pembinaan. Dalam laporan periode Januari–Juli 2026, Rumah Yatim mencatat 115.527 anak mukim dan nonmukim dalam sebaran layanan di berbagai wilayah Indonesia.

Angka 115.527 merupakan jumlah gabungan anak mukim dan nonmukim yang tercatat dalam sebaran layanan Rumah Yatim. Sementara, sebanyak 393 anak tercatat sebagai anak mukim yang mendapatkan pengasuhan dan pembinaan di asrama, terdiri dari 194 anak laki-laki dan 199 anak perempuan.
Jangkauan layanan tersebut tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, dengan jumlah penerima manfaat yang cukup besar di antaranya berada di Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan wilayah lainnya.
Bagi Rumah Yatim, angka tersebut bukan sekadar data penerima manfaat. Di balik setiap anak terdapat proses pembinaan yang diarahkan untuk membangun kemampuan akademik, karakter, spiritualitas, dan keterampilan. Karena itu, Rumah Yatim mengembangkan pola pembinaan yang memadukan pendidikan akademik, pendidikan diniyah, pembelajaran Al-Qur’an, serta pengembangan hard skill dan soft skill.
Pendidikan akademik menjadi salah satu fondasi utama dalam menyiapkan generasi hebat. Anak-anak mendapatkan dukungan untuk menjalani pendidikan formal mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Pembinaan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran, tetapi juga diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, analitis, memecahkan masalah, serta mempersiapkan anak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
393 Anak Mukim Ikuti Pembinaan Al-Qur’an
Pembentukan generasi hebat juga diperkuat melalui pendidikan diniyah dan pembinaan Al-Qur’an. Dalam laporan Januari–Juli 2026, sebanyak 393 anak mukim tercatat dalam capaian hafalan Al-Qur’an. Capaian hafalan tersebut berlangsung secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing anak, mulai dari 0,5 juz hingga 7 juz. Data ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an menjadi bagian nyata dari keseharian pembinaan anak di asrama, bukan sekadar kegiatan tambahan.
Pembinaan Al-Qur’an tersebut berjalan berdampingan dengan pendidikan karakter. Anak diarahkan agar ilmu dan hafalan yang dimiliki tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Rumah Yatim juga mempersiapkan anak menghadapi perubahan dunia pendidikan, teknologi, dan dunia kerja melalui pengembangan hard skill dan soft skill. Soft skill yang dikembangkan meliputi komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, empati, kemampuan bersosialisasi, dan adaptasi. Sementara hard skill diberikan melalui kegiatan seperti teknologi digital, desain grafis, animasi, recycle handicraft, pertanian mikro, serta berbagai keterampilan produktif lainnya.
Direktur Marketing dan Komunikasi Rumah Yatim, Sani Ramdani, mengatakan bahwa arah pembinaan Rumah Yatim adalah mempersiapkan anak dengan bekal yang utuh, sehingga mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menentukan masa depan dan keluar dari berbagai keterbatasan.
“Kami ingin Rumah Yatim menjadi ruang tumbuh yang membantu anak-anak menemukan dan mengembangkan potensi terbaiknya. Generasi hebat bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang akhlak, kedekatan dengan Al-Qur’an, keterampilan, kemandirian, dan kemampuan memberi manfaat. Karena itu, seluruh proses pembinaan kami arahkan untuk membangun anak secara utuh,” kata Sani.
Dijelaskannya, sebanyak 115.527 anak mukim dan nonmukim yang terjangkau hingga Juli 2026 ini menunjukkan luasnya jangkauan layanan Rumah Yatim. Di sisi lain, pembinaan 393 anak mukim di asrama memberikan ruang pendampingan yang lebih intensif, mulai pendidikan dan pengasuhan hingga pembinaan Al-Qur’an, karakter, serta keterampilan.
Rumah Yatim akan terus memperkuat kualitas pembinaan dan memperluas jangkauan manfaat agar semakin banyak anak yatim dan dhuafa memperoleh kesempatan untuk berkembang. Dengan pendekatan tersebut, Rumah Yatim menegaskan positioning-nya sebagai lembaga yang ikut mencetak generasi masa depan: generasi yang berilmu, berakhlak, dekat dengan Al-Qur’an, terampil, mandiri, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.





