
JAKARTA, wartametropolitan.com – Prilly Latuconsina rela menolak tawaran film selama 10 tahun demi menghidupkan kembali karakter ikonik Risa Saraswati dalam film Danur: The Last Chapter.
Prilly mengakau peran tersebut memberi pengaruh besar dalam perjalanan kariernya, termasuk keputusan untuk menolak tawaran film horor lain selama satu dekade. Dia mengatakan apa yang dilakukannya untuk menjaga konsistensi karakter.
“Sepuluh tahun di horor benar-benar cuma karakter Risa doang dan enggak menyesal sama sekali. Karena aku cinta sama karakter Risa dan aku bangga juga kalau ketemu sama orang, orang manggil aku Risa,” kata Prilly.
Di film penutup ini, Prilly merasakan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ia harus menyeimbangkan logika akting dengan latar belakang supranatural Risa Saraswati yang sejak kecil diceritakan terbiasa berinteraksi dengan makhluk tak kasatmata. Perbedaan pengalaman tersebut membuat Prilly intens berdiskusi dengan sutradara Awi Suryadi untuk menemukan reaksi yang paling tepat.
“Kadang tuh kalau baca skrip aku tuh bingung reaksi Risa kalau ketemu sama hantu tuh harus seperti apa gitu. Karena kan Teh Risa sudah biasa berkomunikasi dengan mereka dari dulu. Gimana cara nahan takutnya? Nah, aku kan enggak punya pengalaman yang sama kayak Teh Risa,” tutur Prilly.
Film produksi MD Pictures ini dijadwalkan tayang saat Lebaran 2026. Ceritanya menampilkan Risa yang telah dewasa dan berusaha menjalani kehidupan normal tanpa kemampuan melihat teman-teman hantunya. Namun, kemunculan teror baru yang lebih gelap memaksanya kembali menghadapi dunia yang ingin ia tinggalkan.
Sebagai film penutup, Danur: The Last Chapter disiapkan dengan standar produksi tinggi. Founder dan CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi, menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya mengandalkan cerita, tetapi juga kualitas teknis yang mumpuni.
“Perjalanannya kayak Anda tahu juga kalau IMAX itu namanya harus berkualitas. Kami sudah membuktikan film-filmnya yang berkualitas. Jadi dari gambar, dari suara, dari technical aspect, storytelling, sangat menjanjikan,” ujar dia.
Sementara itu, Awi Suryadi menaikkan standar produksi jauh dibanding film sebelumnya. Proses syuting berlangsung hampir sembilan bulan dengan tambahan pengambilan gambar demi mencapai kualitas visual yang diinginkan.
“Seberat apa? Ini Bapak (Manoj) ekspektasinya terlalu tinggi! Lebih tinggi daripada harapan orangtua,” kata Awi dengan canda.
Ia mengungkapkan bahwa durasi produksi yang panjang membuat proses pengerjaan film ini terasa seperti menggarap dua proyek sekaligus.
“Saya mulai syuting Danur Februari, tebak kapan kelarnya? Oktober. Bayangin. Day one Februari, day last itu Oktober. Benar-benar rasanya kayak syuting dua film,” tuturnya.
Awi menegaskan, lamanya produksi bukan karena kesalahan teknis, melainkan tambahan syuting untuk menyempurnakan detail visual dan cerita, terlebih karena standar pembanding film ini bukan lagi Danur 3.
“Nah ini dia, curangnya Bapak (Manoj) ini adalah dibandinginnya itu bukan sama Danur 3, dibandinginnya sama film terakhir saya, Badarawuhi. Jadi kayak sudah naik lagi gitu ekspektasinya,” ucap Awi.
Proses panjang tersebut juga dirasakan para pemain. Zee Asadel, yang memerankan karakter Riri versi dewasa, mengaku film ini menjadi proyek horor paling menguras fisik yang pernah dijalaninya.
“Mungkin syuting pertama aku yang pakai sling-nya tuh agak banyak gitu. Jadi buat aku experience banget,” ujar mantan personel JKT48 ini.





