
JAKARTA, wartametropolitan.com – Meghan Markle kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah video yang dia unggah di media sosial memicu gelombang komentar dan lelucon daring.
Video tersebut menampilkan Meghan Markle bersama sang suami, Pangeran Harry, dalam suasana santai dan penuh tawa, namun perhatian warganet justru tertuju pada penampilan rambut Duke of Sussex.
Video yang dibagikan melalui akun Instagram Meghan memperlihatkan Pangeran Harry menari dan tertawa bersamanya. Unggahan itu disertai keterangan yang bernuansa nostalgia, seolah menggambarkan suasana masa lalu yang ceria.
“Ketika 2026 terasa seperti 2016… Anda harus ada di sana,” katanya dalam keterangan video.
Tak lama setelah diunggah, video tersebut menjadi viral. Sejumlah pengguna media sosial menyoroti perbedaan penampilan rambut Pangeran Harry yang terlihat lebih lebat dibandingkan kemunculannya dalam sidang pengadilan di London beberapa waktu lalu, di mana rambutnya tampak lebih tipis. Perbedaan tersebut memunculkan spekulasi dan candaan, termasuk dugaan penggunaan rambut palsu.
Sebagian warganet menduga video tersebut merupakan rekaman lama yang kembali diunggah Meghan secara strategis. Ada pula yang menilai momen itu hanya memperlihatkan sudut pandang langka Pangeran Harry dengan rambut yang tampak lebih tebal, sehingga memicu reaksi beragam di dunia maya.
Di tengah ramainya perbincangan soal unggahan tersebut, Pangeran Harry sebenarnya tengah menghadapi agenda yang jauh lebih serius. Di ruang sidang, ia terlibat dalam proses hukum terkait dugaan praktik pengumpulan informasi ilegal oleh media Inggris.
Kuasa hukum Harry, David Sherborne, mulai mengulas klaim-klaim individu dalam persidangan, diawali dengan kasus yang melibatkan Baroness Doreen Lawrence. Sherborne mengingatkan pengadilan mengenai tragedi pembunuhan putra Baroness Lawrence, Stephen Lawrence, yang tewas ditikam di Eltham, London tenggara pada 1993.
Dalam pemaparannya, Sherborne menjelaskan bagaimana Baroness Lawrence merasa menjadi sasaran pemberitaan pers ketika berjuang mencari keadilan bagi putranya. Gugatan tersebut berfokus pada lima artikel yang diterbitkan oleh Daily Mail sepanjang 1997 hingga 2007, yang seluruhnya ditulis oleh jurnalis Stephen Wright dan diduga dibuat menggunakan metode pengumpulan informasi yang melanggar hukum.
Peristiwa ini menunjukkan kontras tajam antara sorotan ringan di media sosial dan persoalan hukum serius yang tengah dihadapi Pangeran Harry, sekaligus menegaskan bagaimana kehidupan publik figur kerap berada di bawah pengamatan tajam publik dan media.





