
JAKARTA, wartametropolitan.com – Kebiasaan anak-anak yang duduk membungkuk kini menjadi pemandangan lazim di ruang kelas maupun di rumah. Namun, di balik postur yang tampak sepele itu, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan tulang belakang mereka.
Fenomena ini menjadi sorotan setelah sejumlah dokter memperingatkan bahwa perubahan gaya hidup, terutama pascapandemi, berdampak besar pada kesehatan punggung anak. Peringatan tersebut disampaikan Dr. Babita Jain, Direktur Utama sekaligus Kepala Departemen Pediatri di Max Hospital Gurugram.
Dijelaskan Dr. Babita Jain, masalah postur yang dahulu identik dengan orang dewasa kini semakin banyak dialami anak-anak. Ia menegaskan bahwa perubahan pola hidup modern menjadi faktor utama.
“Lebih banyak anak saat ini mengalami postur tubuh yang buruk, ketegangan leher, dan sakit punggung, masalah yang dulunya dianggap umum terutama pada orang dewasa. Perubahan gaya hidup, terutama setelah tahun-tahun pandemi, semakin memberi tekanan pada tulang belakang anak-anak yang sedang tumbuh,” kata Dr. Babita.
Dia menyebut durasi menatap layar sebagai pemicu dominan. Pembelajaran daring, penggunaan ponsel pintar, tablet, hingga konsol gim membuat anak duduk berjam-jam tanpa penyangga punggung yang memadai. Kondisi ini memicu bahu membulat, kepala condong ke depan atau yang dikenal dengan istilah “text neck”, hingga ketegangan otot berkepanjangan.
Kurang Gerak dan Tas Berat
Tidak hanya layar, berkurangnya aktivitas fisik turut memperlemah otot inti dan punggung anak. Padahal, aktivitas seperti berlari, memanjat, dan bermain di luar ruangan berperan penting menjaga kekuatan tulang belakang.
Selain itu, kebiasaan membawa tas sekolah yang terlalu berat juga menjadi faktor risiko. Beban berlebih, apalagi jika digantung di satu bahu, dapat mengganggu keseimbangan postur dan memicu nyeri jangka panjang.
Tanda Awal
Dr. Babita Jain mengingatkan orang tua agar peka terhadap gejala awal yang muncul, seperti nyeri leher atau punggung bawah.
“Membungkuk yang terlihat, bahu yang tidak rata, atau kesulitan duduk dengan nyaman dalam waktu singkat dapat mengindikasikan perkembangan masalah postur. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kebiasaan ini dapat menyebabkan nyeri kronis dan, dalam beberapa kasus, masalah keselarasan tulang belakang di kemudian hari,” kata Dr. Babita Jain.
Masalah ini bukan sekadar persoalan estetika. Postur yang buruk juga dapat memengaruhi pernapasan, konsentrasi, bahkan rasa percaya diri anak dalam lingkungan sosial.
Pencegahan
Meski terdengar mengkhawatirkan, solusi yang ditawarkan tidak bersifat ekstrem. Orang tua dapat memulai dari kebiasaan sederhana di rumah.
“Kabar baiknya adalah pencegahan itu sederhana dan sangat efektif. Dorong anak-anak untuk tetap aktif secara fisik setiap hari, sertakan peregangan atau yoga untuk fleksibilitas dan kekuatan inti, dan tetapkan batasan yang sehat untuk waktu penggunaan layar. Ajarkan postur duduk yang benar, punggung lurus, kaki rata di lantai, dan layar diposisikan setinggi mata. Tas sekolah idealnya tidak boleh lebih dari 10–15% dari berat badan anak,” kata dokter tersebut.
“Kebiasaan kecil sehari-hari dapat melindungi kesehatan tulang belakang seumur hidup. Kesadaran dini, koreksi tepat waktu, dan pengasuhan yang mendukung dapat membuat perbedaan yang langgeng dalam menjaga anak-anak tetap kuat, aktif, dan bebas nyeri,” tutur dia.
Dengan meningkatnya paparan gawai dan perubahan pola aktivitas anak, perhatian terhadap postur tubuh menjadi krusial. Tanpa intervensi sejak awal, kebiasaan membungkuk hari ini berpotensi menjadi masalah kesehatan kronis di masa depan.





