JAKARTA, wartametropolitan.com – Britney Spears tidak lagi memiliki katalog musik setelah menjual seluruh hak kepemilikannya kepada perusahaan manajemen hak cipta, Primary Wave.

Langkah tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan karier panjang Spears yang selama ini kerap berada di bawah sorotan publik.

Kesepakatan yang dilaporkan pertama kali oleh TMZ dan dikonfirmasi sejumlah media internasional itu mencakup pengalihan kepemilikan atas lagu-lagu yang membentuk era keemasan musik pop akhir 1990-an hingga 2000-an. Perjanjian tersebut disebut telah ditandatangani pada 30 Desember 2025, meski rincian resmi transaksi masih dirahasiakan.

Sumber yang mengetahui kesepakatan tersebut memperkirakan nilai penjualan berada pada kisaran sembilan digit rendah. Nilai itu menempatkan transaksi ini sejajar dengan penjualan katalog musik Justin Bieber yang dilaporkan mencapai 200 juta dolar AS pada 2023. Namun, baik perwakilan Britney Spears maupun pihak Primary Wave memilih tidak memberikan komentar terbuka mengenai detail perjanjian tersebut.

Melalui akuisisi ini, Primary Wave kini mengendalikan deretan lagu ikonik Britney Spears, mulai Baby One More Time, Oops! I Did It Again, (You Drive Me) Crazy, Lucky, Toxic, Stronger, Womanizer, Gimme More, Circus, I’m a Slave 4 U, Overprotected, Piece of Me, Till the World Ends, hingga Everytime, bersama puluhan lagu lain dari seluruh fase kariernya.

Dalam katalog tersebut, Spears tercatat memiliki kredit penulisan lagu untuk hampir 40 karya, termasuk Everytime, Work Bitch! dan Me Against the Music. Meski demikian, sejumlah lagu terbesarnya ditulis bersama atau sepenuhnya oleh kolaborator produser dan penulis lagu.

Primary Wave sendiri dikenal sebagai penerbit musik independen yang mengelola hak cipta nama-nama besar seperti Bob Marley, Prince, Whitney Houston, Stevie Nicks, Ray Charles, Aerosmith, hingga Boy George. Perusahaan ini juga memiliki divisi manajemen talenta yang menaungi sejumlah musisi ternama.

Meski detail penjualan masih terbatas, sumber industri menilai kesepakatan ini kemungkinan mencakup royalti artis dan hak penerbitan lagu. Namun, hak atas nama dan citra Britney Spears disebut hampir pasti tidak termasuk dalam transaksi, mengingat nilai komersialnya yang jauh lebih tinggi.

Penjualan katalog ini menempatkan Britney Spears dalam daftar panjang musisi kelas dunia yang memilih menguangkan karya mereka, mengikuti langkah Bruce Springsteen, Bob Dylan, Shakira, Neil Young, hingga KISS. Bagi perusahaan pemegang hak cipta, kepemilikan tersebut membuka peluang eksploitasi jangka panjang melalui film, televisi, iklan, dan produksi panggung.

Potensi itu kian relevan mengingat kisah hidup Spears tengah diadaptasi ke layar lebar. Film biografi berdasarkan memoarnya The Woman in Me yang dirilis pada 2023 saat ini sedang dikembangkan oleh Universal Pictures. Selain itu, lagu-lagunya juga telah diangkat ke dalam musikal jukebox Broadway Once Upon a One More Time.

Di sisi lain, Britney Spears, yang kini berusia 44 tahun, relatif menjauh dari industri musik dalam beberapa tahun terakhir. Ia terakhir merilis album studio Glory pada 2016 dan menutup penampilan panggungnya pada Oktober 2018 di Formula One Grand Prix Austin, Texas. Sejak bebas dari perwalian selama 13 tahun pada 2021, Spears memilih menjaga kehidupan publiknya tetap terbatas meski masih aktif di media sosial.

Dengan rampungnya penjualan ini, kepemilikan atas salah satu katalog musik pop paling berpengaruh secara resmi berpindah tangan, sementara Britney Spears terus melangkah dengan caranya sendiri dalam mendefinisikan hubungan antara musik, ketenaran, dan kehidupannya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *