
JAKARTA, wartametropolitan.com – Film Gak Ada Matinya! menjadi langkah strategis MD Pictures dalam memperluas ragam genre perfilman yang dihadirkan, di mana selama ini rumah produksi tersebut kuat dengan film drama hingga horor.
Film Gak Ada Matinya! memang menghadirkan komedi yang segar dengan sentuhan dark comedy sebagai alternatif tontonan bagi penikmat film Indonesia.
CEO MD Pictures Manoj Punjabi mengatakan bahwa proyek ini merupakan bagian dari visi perusahaan untuk menawarkan warna baru di industri layar lebar. Menurutnya, konsep cerita yang diusung memiliki kekuatan berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya.
“MD ingin punya warna baru. Saya suka konsepnya. Waktu Acho gabung sebagai produser, saya bilang ini keren banget. Saya menyerahkan semua ke Acho secara kreatif karena mereka ahlinya. Saya pribadi lihat ini potensinya besar,” ujar Manoj.
Film ini diproduseri oleh Muhadkly Acho dan mengangkat premis hubungan ayah dan anak dalam kemasan komedi satir. Cerita berpusat pada konflik keluarga yang berkembang setelah sang ayah dinyatakan meninggal dunia, namun kemudian sadar kembali karena hanya mengalami mati suri.
Lewat pendekatan humor gelap dan sentilan kritik sosial, Gak Ada Matinya! diharapkan mampu menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda. Langkah ini sekaligus menandai komitmen MD Pictures untuk tidak terpaku pada satu formula genre, melainkan terus bereksplorasi menghadirkan cerita yang segar dan relevan bagi penonton.
Mikha Tambayong sendiri mengaku tertarik membintangi Gak Ada Matinya! karena genre yang ditawarkan berbeda dari biasanya.
“Buat aku ini uniqueness-nya banyak gitu karena pertama, komedi buat aku aja itu udah sesuatu yang unik karena aku jarang mendapatkan peran dengan genre komedi gitu,” ucap Mikha Tambayong.
“Terus kedua, dark comedy lagi yang ada sedikit darkness-nya gitu dan tapi sebenarnya ada satu hal yang membuat aku kayak aku harus banget ada di film ini,” tutur dia lagi.
Sementara itu, Oki Rengga mengaku sudah terpikat sejak pertama kali membaca naskah karya Etienne Caesar dan Ridho Brado. Ia menilai unsur komedi dalam cerita sudah terasa kuat bahkan sejak tahap reading.
“Dari reading aja kita sudah ketawa-ketawa gitu ngebacanya, ceritanya segala macam. Mudah-mudahan sih minta doa dari semua, proses syutingnya lancar, tidak ada halangan, tidak ada masalah apa pun jadi kita bisa segera ketemu di bioskop,” ujar Oki.
Dalam film ini, Oki juga dipasangkan dengan Lolox sebagai duet komedi. Ia menyebut kolaborasi tersebut sebagai momen yang telah lama dinantikannya.
“Aku di sini diduetkan bareng Lolox. Itu udah lama banget aku pengin, aku lama pengon main bareng Lolox diproduksi dengan baik kayak begitu,” ungkapnya.
“Alhamdulillahnya disatuin di sini. Jadi kayak… ini kutunggu sebenarnya. Kayak pengin dulu ada Kadir-Doyok gitu. Nah, ini aku pengin jadi Kadir-Doyok-nya gitulah bareng Lolox. Ada sesuatu yang cuma Oki dan Lolox yang bisa ngelakuin ini di sini,” ujar Oki lagi.
Secara garis besar, film ini mengangkat kisah Binsar yang terhimpit masalah finansial akibat utang KPR. Hubungannya dengan sang ayah, Luhut, digambarkan kurang harmonis. Luhut dikenal keras kepala dan menjalankan usaha penjahit.
Konflik memuncak ketika Luhut dinyatakan meninggal dunia. Di tengah duka, Binsar melihat peluang untuk melunasi utangnya lewat klaim asuransi. Namun keadaan berubah drastis saat Luhut sadar kembali dalam perjalanan menuju pemakaman karena ternyata hanya mengalami mati suri.
“Inilah premis utama yang melandasi film Gak Ada Matinya!. Ada hubungan relationship antara anak dan ayah, lalu antara istri dan suami. Banyak layer emosi yang bisa ditampilkan dalam kemasan yang sangat komedik dan tentunya akan banyak sentilan kritik sosial di dalamnya,” tutur Muhadkly Acho.





