
JAKARTA, wartametropolitan.com – Once Mekel menempatkan Kebaya Encim sebagai simbol kuat harmoni budaya dalam perayaan Imlek tahun ini dengan tajuk “Harmoni Imlek Nusantara” di Restaurant Empurau, Minggu (15/2/2026).
Busana khas hasil akulturasi Tionghoa dan Betawi itu disebutnya sebagai bukti nyata perjumpaan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad di Indonesia.
Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili ini dibuka dengan tabuhan gendang, simbal dan tambur yang menggelegar. Atraksi Barongsai dan Wushu memeriahkan suasana, disusul tari Bian Lian atau face changing dance. Lagu-lagu Mandarin yang dipadukan dengan alunan biola serta denting Sasando menghadirkan nuansa lintas budaya dalam satu panggung.
Dalam sambutannya, Once sebagai Ketua Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan mengajak hadirin menengok kembali kebijakan penting pada 2002 saat Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Ia menilai langkah tersebut sebagai momentum bersejarah dalam pengakuan kebudayaan.
“Deklarasi bahwa budaya Tionghoa yang sudah ratusan tahun di Nusantara adalah budaya Indonesia juga, budaya Tionghoa adalah kekayaan Nusantara,” ujar Once, 15 Februari 2026.
Menurutnya, keputusan itu menegaskan pengakuan negara atas kontribusi etnis Tionghoa dalam perjalanan bangsa. Ia menafsirkan penetapan Imlek sebagai hari libur nasional bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan pernyataan sikap kebudayaan.
“Kedua, identitas Tionghoa adalah salah satu elemen pembentuk jati diri bangsa kita. Dan, peran etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan masa depan NKRI,” lanjutnya.
Sementara itu, tuan rumah acara, Darmadi Durianto menyampaikan salam dari Ketua Umum PDI Perjuangan yang tengah menunaikan ibadah umrah. Ia juga memaparkan harapan serta tantangan di Tahun Kuda Api.
Suasana kian akrab ketika prosesi Yee Sang digelar sebelum santap malam bersama. Di atas panggung, prosesi dipimpin oleh Chef Donny bersama Once Mekel, Darmadi Durianto dan fungsionaris PDI Perjuangan seperti Ronny Talapessy, Hilmar Farid, Adri Martowardojo, serta tokoh Perhimpunan INTI dan pengusaha nasional.





