
JAKARTA, wartametropolitan.com – Pemerintah Metropolitan Seoul menyiapkan pengamanan besar-besaran menjelang konser comeback grup K-pop BTS yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Maret 2026 di Lapangan Gwanghwamun, Seoul, Korea Selatan. Sejumlah kebijakan, mulai pembatasan transportasi umum hingga pengerahan ribuan personel keamanan, diterapkan demi menjaga keselamatan pengunjung.
Keputusan tersebut diumumkan setelah Wali Kota Seoul, Oh Se Hoon, memimpin rapat inspeksi keamanan pada 9 Maret bersama berbagai instansi terkait. Pertemuan itu dihadiri pejabat distrik, kepolisian, otoritas pemadam kebakaran, serta sejumlah lembaga yang terlibat dalam pengamanan acara.
Konser tersebut merupakan bagian dari rangkaian promosi album penuh kelima BTS bertajuk ARIRANG yang dijadwalkan rilis pada 20 Maret. Sehari setelahnya, BTS akan menggelar penampilan comeback secara langsung pada pukul 20.00 waktu setempat di Lapangan Gwanghwamun.
Ribuan Personel Dikerahkan
Untuk mengantisipasi lonjakan massa, pemerintah kota menyiapkan sekitar 3.400 personel yang akan berjaga di lokasi konser serta area sekitar. Personel tersebut berasal dari berbagai lembaga, termasuk kantor distrik, perusahaan publik, dan instansi keamanan.
Pemerintah juga membentuk Markas Besar Penanggulangan Keselamatan Warga yang dipimpin kepala Kantor Bencana dan Keselamatan. Markas ini akan mengoordinasikan delapan divisi kerja yang mencakup pengendalian situasi, manajemen lalu lintas, respons medis, penyelamatan darurat, pengelolaan fasilitas, dukungan bagi wisatawan asing, pemantauan, hingga dukungan administratif.
Area konser, stasiun kereta bawah tanah terdekat, serta titik yang diprediksi menjadi pusat keramaian akan dibagi menjadi beberapa zona. Sistem pemantauan arus massa akan dilakukan secara real-time untuk mencegah kepadatan berlebihan.

Operasi Pengamanan Terbesar
Dari sisi penanganan darurat, Markas Besar Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Seoul akan menurunkan 99 unit mobil pemadam serta 765 petugas pemadam kebakaran. Jumlah tersebut disebut sebagai pengerahan terbesar yang pernah dilakukan untuk acara serupa.
Pihak kepolisian juga menyiapkan tambahan personel dengan menerapkan sistem manajemen kerumunan ala stadion. Sistem ini akan mengatur akses pengunjung secara bertahap dari area luar menuju pusat acara.
Selain itu, aparat keamanan juga bersiap menghadapi potensi ancaman terorisme, termasuk kemungkinan serangan menggunakan kendaraan, bahan peledak, maupun drone.
Pembatasan Transportasi Umum
Pengaturan lalu lintas menjadi salah satu fokus utama pemerintah kota. Pada hari konser, beberapa stasiun kereta bawah tanah di sekitar lokasi akan beroperasi tanpa berhenti sehingga penumpang tidak dapat turun di area tersebut.
Stasiun yang terdampak antara lain Stasiun Gwanghwamun, Stasiun Balai Kota, dan Stasiun Gyeongbokgung. Beberapa pintu masuk stasiun juga akan ditutup sementara. Bahkan, stasiun lain seperti Euljiro 1-ga dapat melewati sejumlah pemberhentian tergantung kondisi keramaian.
Sementara itu, rute bus yang melintasi Sejong-daero, Sajik-ro, dan Saemunan-ro akan dialihkan atau melewati beberapa halte untuk menghindari penumpukan massa.
Fasilitas Tambahan
Sebagai upaya meningkatkan kenyamanan pengunjung, pemerintah kota menambah fasilitas publik secara signifikan. Sebanyak 2.399 toilet telah disiapkan di sekitar area konser, dan jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 2.535 unit sebelum acara dimulai.
Pemerintah juga menyediakan dukungan bagi wisatawan internasional melalui buku panduan digital dalam bahasa Korea dan Inggris serta peta multibahasa yang menampilkan lokasi toilet, pos medis, dan pusat informasi.
Sebanyak 70 pemandu wisata akan ditempatkan di stan informasi bergerak, sementara lebih dari 600 relawan turut dikerahkan untuk membantu pengunjung selama acara berlangsung.
“Kami akan memperlakukan seluruh area pusat kota dari Gwanghwamun hingga Seoul Plaza sebagai satu lokasi acara dan memastikan bahwa manajemen lalu lintas dan kerumunan beroperasi secara organik seperti sebuah sistem. Sambil meminimalkan ketidaknyamanan bagi penduduk, kami akan menerapkan sistem manajemen keselamatan yang komprehensif sehingga pengunjung dapat menikmati acara dengan tenang. Misi kami baru akan selesai ketika orang terakhir kembali ke rumah dengan selamat.”
Tuai Kritik
Meski pemerintah kota menyebut langkah tersebut sebagai upaya menjamin keselamatan publik, kebijakan ini justru memicu kritik dari sebagian masyarakat.
Sejumlah warga menilai persiapan berskala besar itu berdampak langsung pada aktivitas harian mereka, terutama karena pembatasan transportasi umum dan lonjakan kerumunan di pusat kota.
Selain itu, penggunaan tenaga kerja dan sumber daya publik untuk acara yang berkaitan dengan kegiatan industri hiburan juga menuai pertanyaan.
“Tidak, tapi apa yang spesial dari para selebriti? Berapa banyak dana publik yang mereka investasikan dalam acara yang diadakan untuk keuntungan pribadi oleh perusahaan swasta?” tulis netizen.
“Saya hanya penasaran seberapa banyak dia akan memanfaatkan media untuk apa yang dia lakukan untuk acara ini LOL. Benar-benar membencinya,” tulis netizen.
“Mereka benar-benar melakukan yang terbaik untuk menjadi pengganggu sambil memengaruhi orang lain,” tulis netizen.
“Apakah mereka gila? Apakah Kota Seoul milik mereka?” tulis netizen lainnya.
Menjelang hari pelaksanaan konser, perdebatan di ruang publik pun semakin menguat, seiring meningkatnya antusiasme penggemar BTS dan kekhawatiran warga terhadap dampak acara tersebut terhadap aktivitas kota.









