
JAKARTA, wartametropolitan.com – Tingkat keganasan kanker payudara di Indonesia menjadi sorotan dalam seminar medis bertajuk Advancing Cancer Care in Indonesia yang digelar di Hotel Sultan Jakarta. Kegiatan yang dihadiri lebih dari 100 dokter dari berbagai fasilitas layanan kesehatan ini membahas tantangan penanganan kanker di negara berkembang.
Dr. dr. Denni Joko Purwanto, konsultan bedah onkologi dari RS EMC Alam Sutra, menjelaskan bahwa meskipun angka kejadian kanker payudara lebih tinggi di negara maju, tingkat keganasan kasus di negara berkembang seperti Indonesia relatif lebih tinggi. Kondisi ini salah satunya disebabkan banyaknya pasien yang berada pada usia produktif.
“Setiap populasi memiliki karakteristik berbeda. Di negara berkembang seperti kita, tingkat keganasan relatif tinggi karena banyak terjadi pada usia produktif,” kata dr. Denni.
Ia menambahkan bahwa kanker payudara memiliki keterkaitan erat dengan faktor hormonal sehingga gaya hidup turut memengaruhi tingkat risiko. Karena itu, peningkatan literasi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat dinilai krusial dalam upaya pengendalian kasus.
“Dasar penanganan kanker adalah deteksi dini. Saat ini fasilitas seperti USG sudah tersedia hingga puskesmas. Yang perlu diperkuat adalah komunikasi dan edukasi kepada perempuan agar mau melakukan pemeriksaan lebih awal,” ujar dia.
Dalam forum yang sama, dr. Seno Budi Santoso turut menyoroti tren peningkatan kasus kanker pada kelompok usia muda. Ia mengungkapkan bahwa dalam 10 tahun terakhir terdapat kecenderungan pasien kanker datang dari usia yang semakin belia.
“Dalam satu dekade terakhir, kami melihat tren usia penderita kanker semakin muda. Banyak pasien yang kami tangani bahkan berusia di bawah 30 tahun,” ujar dr. Seno.
Menurutnya, faktor genetik dan lingkungan berperan dalam peningkatan kasus tersebut, namun gaya hidup juga menjadi determinan penting yang bisa dikendalikan.
“Konsumsi alkohol, minuman manis, rokok, serta asupan gula berlebihan menjadi faktor gaya hidup yang dapat memicu kanker. Ada faktor yang bisa dikendalikan, ada juga yang tidak,” tutur dia.
Selain kanker payudara, dr. Seno mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala gangguan saluran cerna, terutama perubahan pola buang air besar yang tidak biasa.
“Jika biasanya buang air besar rutin sehari sekali lalu berubah menjadi lebih sering atau justru lebih lama, itu perlu diwaspadai dan diperiksa,” kata dr. Seno.
Ia juga menyoroti konsumsi daging olahan berbahan dasar daging merah yang mengandung zat pengawet. Meski telah melalui pengawasan keamanan pangan, konsumsi berlebihan dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko.
“Produk tersebut memang telah melalui pengawasan dan dinyatakan aman, tetapi tetap harus dikonsumsi dalam jumlah wajar karena risiko muncul melalui proses akumulasi,” ujarnya.
Seminar ini juga menghadirkan dr. Junan Imaniar Pribadi, dokter spesialis kedokteran nuklir dari RS EMC Graha Kedoya. Kegiatan yang rutin digelar secara gratis oleh EMC Healthcare tersebut menjadi bagian dari komitmen institusi dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dokter secara berkelanjutan.
Melalui forum ilmiah ini, para tenaga medis diharapkan semakin siap menghadapi tantangan kanker di Indonesia, sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan deteksi dini.





