JAKARTA, wartametropolitan.com – Perdebatan soal penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di industri hiburan kembali mengemuka. Kali ini datang dari Nancy Cartwright, pengisi suara karakter Bart Simpson dalam serial animasi legendaris The Simpsons.

Aktris Amerika Serikat berusia 68 tahun itu menegaskan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menggantikan sentuhan emosional manusia dalam menghidupkan karakter animasi.

Dalam wawancaranya yang terbit pada 16 Februari 2026, Nancy menyampaikan pandangannya terkait kemungkinan penggunaan AI untuk meniru suaranya.

Dia mengatakan bahwa komputer mungkin dapat meniru bunyi suaranya secara teknis, namun tidak memiliki dimensi emosional seperti manusia.

Nancy melanjutkan dengan menambahkan bahwa manusia dapat merasakan dan menunjukkan emosi dengan cara yang tidak akan pernah bisa dilakukan mesin.

Bagi perempuan yang telah hampir 35 tahun mengisi suara Bart Simpson tersebut, kekuatan utama seorang pengisi suara terletak pada kemampuan menghadirkan jiwa dalam setiap dialog.

Ia bahkan berharap ketika dirinya pensiun kelak, pihak produksi tetap memilih aktor manusia sebagai penerus karakter Bart, bukan menggantinya dengan teknologi AI.

Dalam kesempatan yang sama, Nancy juga mengungkap fakta menarik dari awal kariernya di serial tersebut. Ia hampir mengikuti audisi untuk peran Lisa Simpson sebelum akhirnya memilih mencoba karakter Bart.

Menurutnya, sosok bocah nakal berusia 10 tahun itu terasa lebih menantang dan memiliki daya tarik tersendiri. Keputusan tersebut terbukti mengubah hidupnya, karena suara khas Bart Simpson kemudian melekat kuat di benak penonton global.

Pandangan Nancy bukan suara tunggal. Rekannya di serial yang sama, Hank Azaria, yang mengisi berbagai karakter seperti Moe, Chief Wiggum, dan Comic Book Guy, juga menyampaikan kegelisahan serupa.

Hank berbagi bahwa meskipun komputer mampu meniru suaranya dengan presisi tinggi, teknologi tersebut tetap tidak memiliki emosi dan jiwa manusia yang membuat karakter terasa hidup.

Isu ini muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam produksi film, animasi, dan industri kreatif lainnya. Kemampuan AI meniru suara dan ekspresi dinilai semakin realistis, namun tetap memunculkan pertanyaan etis tentang masa depan profesi kreatif.

Pernyataan tegas Nancy Cartwright mempertegas satu hal: di balik kemajuan teknologi, unsur kemanusiaan masih menjadi fondasi utama dalam seni peran suara.

Perdebatan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring perkembangan AI yang kian pesat di dunia hiburan global.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *