JAKARTA, WartaMetropolitan.com – Raja Charles III menunjukkan keberanian dan berdiri teguh di tengah kekacauan, bahkan masalah kesehatan dan perselisihan keluarga. Semua ini tidak mengurangi tekadnya untuk mengamankan masa depan Kerajaan.

Semua prediksi tentang abdikasinya karena masalah kesehatan, usia lanjut dan perselisihan keluarga sejauh ini, bisa dibilang gagal.

Kebijaksanaan dan ketahanan Raja Charles membantunya membawa monarki melewati badai, mengukir namanya di hati para penggemar kerjaan dengan mengatasi tantangan.

Setelah naik tahta pada 2022 menyusul wafatnya Ratu Elizabeth pada usia 96 tahun, perbincangan seputar kerajaan dengan cepat beralih ke kemungkinan turun tahta dan dilanjutkan kepada Pangeran William, suatu hari nanti.

Lebih jauh, prediksi mengerikan dari para astrolog, Nostradamus, dan paranormal mengisyaratkan kemungkinan turun tahta yang tak terduga dari Raja.

Diagnosis kanker yang dideritanya memicu spekulasi bahwa Charles akan segera menyerahkan mahkota kepada Pangeran William, pewaris tahta Inggris, atas saran dokternya.

Namun, tradisi turun tahta lebih umum di monarki Eropa, tetapi di Inggris, menjadi Raja atau Ratu dipandang sebagai pekerjaan seumur hidup.

Mendiang Ratu menyatakan pada ulang tahunnya yang ke-21, di mana dia bertekat menjalani hidup demi rakyat.

“Saya menyatakan di hadapan Anda semua bahwa seluruh hidup saya, baik panjang maupun pendek, akan saya dedikasikan untuk melayani Anda,” ucapnya.

Sebelumnya, sejarawan kerajaan Jessica Storoschuk mendesak publik untuk tidak mengharapkan Raja Charles untuk turun tahta dalam waktu dekat atau bahkan selamanya.

“Sepertinya tidak mungkin Raja Charles akan turun takhta, karena ia tampaknya memiliki pendekatan ‘seumur hidup’ yang sama terhadap perannya sebagai raja seperti mendiang ibunya,” klaim sejarawan tersebut.

“Jika masalah kesehatannya memburuk, kemungkinan besar anggota keluarga kerajaan senior lainnya akan mengambil alih perannya sehari-hari daripada turun takhta,” tutur dia lagi.

Grant Harrold, yang pernah menjabat sebagai kepala pelayan kerajaan untuk Raja, setuju bahwa turun takhta kemungkinan besar tidak akan terjadi.

“Sama seperti ibunya, ia akan terus melayani hingga napas terakhirnya,” ujarnya.

Tidak diragukan lagi bahwa beberapa turun takhta telah terjadi di Eropa dan Asia baru-baru ini, termasuk Ratu Margrethe yang menyerahkan mahkota kepada putranya, Raja Frederik pada 2024 dan Adipati Agung Henri dari Luksemburg yang mengumumkan Natal lalu bahwa ia akan turun takhta akhir tahun ini.

Tidak salah untuk mengatakan bahwa monarki-monarki ini tidak memiliki sejarah turun takhta yang sama seperti mahkota Inggris.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *