JAKARTA, WartaMetropolitan.com – Gangguan makan berlebihan atau binge eating disorder (BED) adalah gangguan makan yang cukup umum yang dapat memengaruhi siapa saja. Namun, gangguan ini baru diakui pada 2013, ketika dimasukkan dalam ‘Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental’ (DSM-5). Tentu saja, gangguan ini sudah ada jauh lebih lama dari itu.

Apa Itu Gangguan Makan Berlebihan?

Gangguan makan berlebihan terjadi ketika episode makan kompulsif terjadi. Tidak seperti gangguan makan lainnya, tidak ada perilaku kompensasi (misalnya, muntah, seperti yang dilakukan seseorang dengan bulimia).

Gangguan makan berlebihan sebenarnya adalah gangguan yang cukup umum. Di Amerika Serikat, gangguan ini tiga kali lebih umum daripada bulimia dan anoreksia gabungan.

Gejalanya ditandai dengan berbagai episode makan di mana kontrol tidak dapat dilakukan. Meskipun jenis makanan, durasi, dan frekuensi episode bervariasi, tergantung pada individu.

Selama episode ini, individu merasa tidak dapat mengendalikan diri, dan biasanya mereka memiliki perasaan bersalah, jijik, malu dan merasa kenyang secara tidak nyaman.

Komplikasi Kesehatan BED

Terdapat berbagai masalah mental dan fisik yang terkait dengan BED. Ini termasuk risiko lebih tinggi terkena diabetes, hipertensi, gangguan tidur, dan masalah pencernaan, di antara lainnya.

Wanita dengan BED juga berisiko menderita gangguan menstruasi, masalah kesuburan dan komplikasi kehamilan.

Diperkirakan bahwa 79% orang yang menderita BED memiliki setidaknya satu gangguan kejiwaan lainnya. Ini mungkin termasuk depresi, kecemasan, dan gangguan kepribadian, di antara dapat dipicu oleh berbagai faktor, tidak hanya emosional, juga biologis, lingkungan dan psikososial.

Nah, wanita lebih terpengaruh daripada pria dan usia rata-rata terjadinya BED adalah 23 tahun. Gangguan ini lebih umum terjadi pada orang yang memiliki kondisi kesehatan mental lainnya. Wanita dan anak perempuan yang sering melakukan diet kronis lebih mungkin mengembangkan BED.

Mereka yang mengalami ini, bisanya pernah mengalami pelecehan di masa kanak-kanak hingga, mungkin menemukan kenyamanan dalam makan dan menggunakannya sebagai mekanisme penanggulangan emosional.

Tidak itu saja, mereka yang memiliki keyakinan tidak sehat tentang makanan, misalnya, orang yang percaya bahwa mereka tidak dapat mengontrol seberapa banyak mereka makan, juga berisiko lebih tinggi mengembangkan gangguan ini.

Gangguan rutinitas harian, ketidakpastian, kesepian, dan ketakutan semuanya berkontribusi membuat orang lebih rentan mengembangkan BED sebagai mekanisme penanggulangan.

Selain itu, faktor genetik juga harus diperhitungkan dalam mengembangkan BED (Gangguan Makan Berlebihan). Sistem metabolisme, endokrin, dan imun, serta mikrobioma dan otak, dapat memengaruhi pewarisan BED.

Lalu, bagaimana mengatasinya? Karena BED dapat memiliki berbagai faktor dan kemungkinan penyebab yang mendasarinya, pendekatan holistik terkadang diperlukan. Salah satu metode utama adalah psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT).

Selain itu, penilaian psikiatrik mungkin juga diperlukan dan obat-obatan, seperti antidepresan dapat diresepkan atau melakukan mindfulness yang dinilai dapat membantu mereka yang menderita BED. Makan dengan penuh kesadaran, misalnya, dapat membantu pasien lebih selaras dengan tubuh dan impuls mereka.

Namun, tidak semua penderita BED kelebihan berat badan, tetapi banyak yang mengalami obesitas dan karenanya harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk kembali ke berat badan yang lebih sehat. Ini biasanya melibatkan pembatasan kalori dan peningkatan aktivitas fisik.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *