
JAKARTA, wartametropolitan.com – Film Supergirl yang menjadi bagian dari semesta baru DC Universe (DCU) menuai respons kurang menggembirakan dari para kritikus. Menjelang penayangan resminya di bioskop Amerika Serikat, film yang dibintangi Milly Alcock itu hanya meraih 59 persen dari 176 ulasan di Rotten Tomatoes, sehingga memperoleh label “Rotten”.
Film garapan sutradara Craig Gillespie tersebut mengadaptasi komik Supergirl: Woman of Tomorrow karya Tom King dan Bilquis Evely. Selain menjadi debut film solo Kara Zor-El di DCU, film ini juga menghadirkan kembali Superman yang diperankan David Corenswet serta memperkenalkan karakter Lobo yang dimainkan Jason Momoa.
Meski memiliki materi sumber yang kuat dan jajaran pemain ternama, sejumlah kritikus menilai film ini gagal memenuhi ekspektasi. Berikut beberapa faktor yang paling banyak disorot.
- Lobo Kurang Mendukung Cerita
Penampilan Jason Momoa sebagai Lobo mendapat banyak pujian karena dianggap sesuai dengan versi komiknya. Namun, sejumlah ulasan menilai kehadiran karakter tersebut justru mengalihkan fokus dari perjalanan emosional Supergirl.
“Sementara itu, Lobo sama sekali tidak membantu perjalanan emosional Kara dalam film. Ia sebagian besar hanya berfungsi sebagai alat plot, yang menggerakkan cerita ke depan.” – Molly Freeman, ScreenRant.
- Visual Film Tak Seindah Komik
Banyak kritikus menilai keindahan dunia kosmik dalam komik Supergirl: Woman of Tomorrow gagal diterjemahkan ke layar lebar. Latar berbagai planet disebut terasa monoton dan kehilangan daya tarik visual yang menjadi kekuatan komiknya.
“Film ‘Supergirl’ terbaru, yang disutradarai setengah hati oleh Craig Gillespie, menyia-nyiakan kualitas bintang aktris utamanya, Milly Alcock, dengan mengelilinginya dengan visual yang buruk…” – Cody Dericks, Next Best Picture.

- Cerita Kurang Orisinal
Beberapa pengulas menganggap film ini terlalu mengandalkan formula film superhero yang sudah sering digunakan, sehingga sulit menghadirkan pengalaman baru bagi penonton.
“Meskipun cukup ringan, film western luar angkasa Craig Gillespie yang nakal dan penuh aksi ini terasa terlalu familiar dalam genre yang mau tak mau terus mencari inspirasi dari masa lalu sambil berpegang teguh pada relevansi.” – Rocco T. Thompson, Slant Magazine.
- Sulit Menyaingi Superman
Sebagai film kedua dalam DCU, Supergirl tak lepas dari perbandingan dengan Superman garapan James Gunn yang mendapat sambutan positif. Banyak kritikus merasa kualitas narasi dan penyajian film ini masih berada di bawah pendahulunya.
“Supergirl tidak pernah mencapai kejelasan, ketepatan, atau kepercayaan naratif yang membuat Superman menjadi kejutan yang menyenangkan.” – Jon Negroni, Thank God for Movies.
- Naskah Tuai Kritik
Skenario karya Ana Nogueira juga menjadi sorotan. Sejumlah ulasan menyebut alur cerita terasa tidak fokus, sementara perkembangan karakter Kara dinilai kurang maksimal.
“Dia memberi kita film buku komik dengan naskah terburuk yang pernah saya ingat. (Itu karya Ana Nogueira.)” – Owen Gleiberman, Variety.
- Emosi Karakter
Meski mengangkat latar belakang tragis Kara Zor-El, banyak kritikus merasa film ini gagal membangun ikatan emosional yang kuat dengan penonton.
“Pada akhirnya, Anda tidak bisa tidak bertanya-tanya mengapa emosi karakter-karakter ini tidak memberikan dampak yang besar.” – Tomris Laffly, RogerEbert.com.
- Penjahat Krem Tak Berkesan
Karakter Krem dari Yellow Hills disebut menjadi salah satu titik lemah film. Penjahat utama ini dianggap tidak memiliki identitas yang kuat sehingga gagal menjadi ancaman yang berkesan.
“Di mana cerita paling lemah adalah penjahatnya, Krem.” – Lynn Venhaus, PopLifeSTL.
- Efek CGI Jadi Keluhan Terbesar
Efek visual pada klimaks film menjadi aspek yang paling banyak dikritik. Beberapa pengulas bahkan membandingkannya dengan The Flash, yang sebelumnya juga menuai kritik terkait kualitas CGI.
“Efek visual babak ketiga sangat kasar sehingga membuat The Flash terlihat seperti Avatar.” – David Gonzalez, The Cinematic Reel.
Meski mendapat banyak ulasan negatif dari kritikus, skor Rotten Tomatoes masih berpeluang berubah setelah film resmi dirilis dan memperoleh lebih banyak penilaian. Namun untuk sementara, sederet kritik tersebut menjadi gambaran mengapa Supergirl belum mampu memenuhi ekspektasi tinggi sebagai penerus kesuksesan Superman di DC Universe.





