JAKARTA, wartametropolitan.com – Di tengah dinamika gaya hidup urban yang terus berkembang, jamu menunjukkan perubahan signifikan di tengah kehidupan masyarakat. Minuman tradisional warisan leluhur ini tidak lagi dipandang sebagai simbol masa lalu, tetapi telah bertransformasi menjadi bagian dari pengalaman budaya yang relevan dengan generasi masa kini.

Di sebuah sudut Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Jakarta, kawasan yang lekat dengan denyut gaya hidup urban, jamu menemukan wajah barunya lewat Cafe Jamu Indonesia, di mana jamu bukan lagi sekadar minuman tradisional yang diwariskan dari dapur ke dapur, tetapi menjadi pengalaman budaya yang dirayakan, dikurasi dan dihadirkan dengan bahasa zaman.

Jamu hadir dalam bentuk yang akrab bagi generasi urban sebagi ruang yang estetis, narasi yang informatif, dan produk yang dirancang mengikuti ritme hidup modern.

Cafe Jamu Indonesia yang dihadirkan PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki) ini mengusung konsep Jamu Experience Cafe, di mana pengunjung diajak memahami filosofi jamu, jampi (doa), oesodo (kesehatan) dan pengetahuan lintas generasi sekaligus menikmati inovasi yang dikemas dengan selera masa kini.

Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki) Jony Yuwono mengatakan transformasi ini bagian dari komitmen jangka panjang. Jamu dihadirkan bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan mendekatkannya kembali ke keseharian masyarakat terutama generasi muda yang tumbuh di tengah arus globalisasi dan budaya populer.

“Acaraki hadir untuk memperluas cara masyarakat mengenal dan menikmati jamu,” kata Jony.

Inovasi ini menjadi alternatif konsumsi minum jamu yang lebih praktis bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi. Rasanya pun diperkaya. Rasakan saja sensasi Turmeric, Shades of Gold dan All About Ginger, yang diluncurkan sebagai pelengkap, bukan pengganti jamu seduh. Ini modernisasi jamu tanpa harus memutus akar dan justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup.

Sementara, Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar yang meresmikan Cafe Jamu Indonesia ini mengatakan jamu tidak pernah sekadar soal nostalgia, melainkan sebagai warisan pengetahuan, kekayaan biodiversitas, sekaligus potensi ekonomi kreatif yang belum sepenuhnya digarap. 

Indonesia, kata Taruna, memiliki sekitar 18.000 jenis jamu dan lebih dari 600.000 ragam kuliner tradisional sebuah lanskap pengetahuan lokal yang mencerminkan jati diri bangsa. Di balik angka-angka itu, tersimpan peluang besar untuk kesehatan masyarakat dan daya saing ekonomi berbasis budaya.

Taruna Ikrar mengapresiasi langkah acaraki yang mengembangkan jamu secara bertanggung jawab dan patuh terhadap ketentuan. Bagi dia, inovasi berbasis bahan alam hanya akan bermakna jika tetap mengedepankan keamanan dan mutu. Kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia, kata Taruna, dibangun dari kepastian standar bukan semata klaim.

Secara personal, Taruna Ikrar memberi contoh sederhana penuh bermakna. Setiap pagi, dia rutin mengkonsumsi jamu jahe. Kebiasaan ini mencerminkan keyakinannya bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang tidak boleh hilang.

BPOM di bawah kepemimpinannya juga mendorong penguatan pengawasan obat tradisional agar jamu Indonesia siap go international. Standar global bukan untuk mengekang, melainkan untuk memastikan jamu Indonesia diterima dunia tanpa kehilangan identitas. Dalam konteks ini, jamu diposisikan bukan hanya sebagai produk kesehatan, juga sebagai duta budaya dan ekonomi kreatif Indonesia.

Ke depan, Taruna mendorong integrasi jamu dan obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional. Ia menilai Indonesia dapat belajar dari negara seperti China dan India yang berhasil mengintegrasikan pengobatan tradisional ke layanan kesehatan modern, tanpa mengorbankan aspek keamanan dan efektivitas.

Sementara, acaraki yang dirikan pada 2018, dikenal sebagai ruang yang menggabungkan tradisi herbal kuno Indonesia dengan inovasi kuliner berbasis budaya yang terinspirasi dari prasasti kuno Madhawapura yang menyebut “acaraki” sebagai profesi peracik jamu dan kini, acaraki berkomitmen menghadirkan kembali warisan ini ke era kontemporer. 

Komitmen tersebut diperkuat dengan berbagai pengakuan, di antaranya memenangkan Good Design Award melalui produk Wilwatikta, meriah Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), serta mendapat apresiasi atas keterlibatannya dalam riset Jamu Wellness Culture bersama UNESCO.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *