JAKARTA, wartametropolitan.com – Munculnya varian baru COVID-19 bernama “cicada” memicu kewaspadaan global setelah penyebarannya terdeteksi di berbagai negara, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat.

Varian yang secara ilmiah dikenal sebagai BA.3.2 ini dilaporkan telah menyebar luas di sejumlah negara Eropa dan ditemukan di puluhan negara bagian di Amerika Serikat. Dalam beberapa kasus, varian ini bahkan menyumbang sekitar 30 persen infeksi di negara seperti Jerman, Denmark, dan Belanda.

Fenomena ini menjadi perhatian para ahli kesehatan karena karakteristik virus yang dinilai cukup unik. Varian “cicada” diketahui memiliki 70 hingga 75 mutasi, sehingga berbeda dari varian COVID-19 sebelumnya dan berpotensi mengurangi efektivitas perlindungan dari vaksin maupun infeksi terdahulu.

Selain itu, pola kemunculannya juga tidak biasa. Varian ini sempat muncul pada 2024, kemudian menghilang, dan kembali terdeteksi pada akhir tahun lalu.

Para ahli mengingatkan bahwa mengenali gejala sejak dini menjadi kunci untuk mencegah penyebaran lebih luas. Terdapat lima gejala utama yang perlu diwaspadai, yaitu sakit tenggorokan, kelelahan, hidung tersumbat atau berair, sakit kepala, serta batuk.

Berbeda dengan varian COVID-19 sebelumnya, “cicada” cenderung tidak menimbulkan gejala khas seperti demam tinggi maupun hilangnya kemampuan indera penciuman dan perasa. Kondisi ini membuat infeksi lebih sulit dikenali karena kerap menyerupai flu biasa atau alergi musiman.

Meski demikian, alat tes COVID-19 mandiri di rumah disebut masih mampu mendeteksi varian ini karena menargetkan bagian virus yang relatif stabil.

Otoritas kesehatan tetap menganjurkan masyarakat untuk menjalani vaksinasi secara rutin, terutama pada musim tertentu, guna mengurangi risiko gejala berat. Kelompok rentan juga disarankan mempertimbangkan dosis tambahan untuk meningkatkan perlindungan, khususnya menjelang potensi lonjakan kasus di musim panas.

Dengan penyebaran yang terus berkembang, kewaspadaan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan varian baru ini.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *