JAKARTA, wartametropolitan.com – Selama ini, pasangan dengan sifat narsistik kerap dicap sebagai “bom waktu” dalam hubungan asmara—memikat di awal, namun perlahan merusak. Namun, temuan terbaru dari Michigan State University justru membalik anggapan tersebut. Penelitian ini mengungkap bahwa dampak narsisme dalam hubungan tidak hitam-putih, melainkan jauh lebih kompleks dan tidak selalu berujung pada kehancuran.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 5.000 pasangan selama periode hingga enam tahun ini mengungkap bahwa sifat narsistik memiliki dimensi yang berbeda. Hasil studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality tersebut menyoroti dua aspek utama, yakni kekaguman narsistik dan persaingan narsistik.

Penulis utama studi sekaligus profesor psikologi, Gwendolyn Seidman mengatakan individu dengan kecenderungan narsistik memiliki cara berbeda dalam mempertahankan citra diri mereka.

“Para narsisis memiliki dua cara berbeda untuk mempertahankan persepsi diri positif mereka yang berlebihan. Mereka dapat membanggakan diri dengan mencoba membuat orang lain terkesan (kekaguman narsistik), atau mereka dapat merendahkan orang lain untuk menunjukkan bahwa mereka lebih unggul dari mereka (persaingan narsistik),” kata Gwendolyn Seidman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi persaingan narsistik cenderung berdampak negatif terhadap kepuasan hubungan bagi kedua pasangan. Sebaliknya, kekaguman narsistik tidak ditemukan memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kepuasan dalam hubungan.

Temuan lain yang cukup mengejutkan adalah hubungan tidak serta-merta memburuk lebih cepat meskipun salah satu pasangan memiliki sifat narsistik tinggi. Bahkan, pada pasangan yang baru menjalani hubungan selama satu tahun atau kurang, sifat tersebut tidak memberikan dampak berarti terhadap kepuasan hubungan.

Seidman menambahkan bahwa pandangan umum tentang narsisisme dalam hubungan kemungkinan terlalu disederhanakan.

“Orang sering berasumsi bahwa narsisis awalnya menawan tetapi secara bertahap merusak hubungan mereka seiring waktu. Temuan kami menunjukkan bahwa kenyataannya mungkin lebih rumit. Mungkin ada titik balik dalam hubungan di mana keadaan berubah, dan kepuasan menurun drastis, atau mungkin fase ‘bulan madu’ dengan narsisis lebih lama. Kemungkinan lain adalah bahwa kerusakan yang disebabkan oleh narsisis tidak langsung terlihat pada kepuasan hubungan pasangan mereka secara keseluruhan. Misalnya, narsisis mungkin secara bertahap mengikis harga diri atau rasa kemandirian pasangan mereka,” tutur Seidman.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa tidak semua bentuk narsisme berdampak sama dalam hubungan romantis. Kompleksitas ini membuka ruang bagi penelitian lanjutan untuk memahami bagaimana karakter kepribadian memengaruhi dinamika hubungan secara lebih mendalam.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *