
JAKARTA, wartametropolitan.com – Film Children of Heaven garap rumah produksi MD Pictures hadir dengan pendekatan sederhana, tetapi mampu menggugah emosi penonton lewat cerita yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Diadaptasi dari film Iran yang masuk nomonasi Oscar, Sutradara Hanung Bramantyo menggambarkan dengan apik kisah kakak beradik yang harus berbagi sepasang sepatu demi tetap bisa bersekolah.
Latar cerita dibuka dengan nuansa Semarang era 1980-an. Suasana masa itu diperkuat lewat siaran radio yang menyiarkan pengumuman kabinet Presiden Soeharto. Dari sana, penonton diperkenalkan dengan Ali, bocah laki-laki dari keluarga sederhana yang hidup bersama ibu yang sakit, ayah pengurus masjid, serta dua adiknya.
Konflik bermula ketika Ali membawa sepatu milik adiknya, Zahra ke tukang reparasi. Dalam perjalanan pulang, sepatu yang dibungkus plastik hitam justru terbawa pemulung saat Ali membeli sayuran untuk sang ibu.
Kehilangan itu membuat Ali diliputi kecemasan. Bukan takut dimarahi, melainkan karena ia memahami kondisi ekonomi keluarganya yang serba terbatas. Di sisi lain, Zahra terus memikirkan bagaimana dirinya bisa pergi ke sekolah tanpa alas kaki.
Situasi semakin menyentuh ketika kakak beradik tersebut mencari solusi diam-diam di tengah pembicaraan kedua orang tua mereka yang sedang memikirkan masalah keuangan keluarga. Melalui tulisan di buku, Ali dan Zahra akhirnya sepakat memakai sepatu secara bergantian agar tetap dapat bersekolah.
Namun, keputusan itu memunculkan persoalan baru. Ali sering terlambat masuk kelas karena harus menunggu Zahra pulang sekolah terlebih dahulu untuk menggunakan sepatu yang sama.

Adegan Ali dan Zahra berlari demi bergantian sepatu menjadi salah satu momen emosional dalam film. Suasana haru semakin terasa lewat lagu “Mimpi Jadi Nyata” yang dibawakan Restu Van Houtten dengan lirik karya Tisa TS.
Tak hanya menghadirkan drama keluarga, film garapan Hanung Bramantyo ini juga menyelipkan banyak pesan moral, mulai dari kasih sayang antar saudara, kejujuran, hingga pentingnya berbagi di tengah keterbatasan hidup.
Film ini merupakan adaptasi dari karya legendaris sutradara Iran Majid Majidi yang pertama kali dirilis pada 1997. CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi mengaku tersentuh saat pertama kali menyaksikan kisah tersebut.
“Pertama kali nonton film ini, setelah 40 menit, saya jadi sangat terharu, dan merasakan luapan emosi yang dalam. Kami beruntung dapat IP (Intellectual Property) film ini,” kata Manoj.
Manoj juga menilai versi adaptasi Indonesia mampu menghadirkan kekuatan emosi yang tidak kalah dari film aslinya.
“Akhirnya kita pun dapat Ali-Zahra yang luar biasa. Saya dengan yakin bisa bicara bahwa adaptasi ini tidak kalah dari aslinya,” ujar Manoj.
Ia menambahkan bahwa film tersebut membawa formula berbeda dibanding produksi MD lainnya dan optimistis bisa diterima publik luas.
“Di film ini, kami menyajikan formula yang berbeda dari film-film MD yang lain. Saya akan all out untuk mempromosikan film ini. Saya percaya film bagus harus lebih banyak ditonton. Mudah-mudahan film ini bisa diterima,” tuturnya lagi.
Karakter Ali diperankan Jared Ali, sementara Zahra dimainkan Humaira Jahra. Film ini juga dibintangi Andri Mashadi, Faradina Mufti, Oki Rengga, Muhadkly Acho, Didik Nini Thowok, Dodit Mulyanto hingga Slamet Rahardjo.





