
JAKARTA, wartametropolitan.com – Vokalis band rock legendaris The Cure, Robert Smith mengkritik pertunjukan paruh waktu (half-time show) final Piala Dunia FIFA 2026 yang digelar perdana dalam sejarah.
Musisi 67 tahun itu menilai konsep yang diusung FIFA tidak selaras dengan tradisi sepak bola, meski diisi deretan artis papan atas dunia, seperti vokalis Coldplay, Chris Martin, Shakira, Madonna, Justin Bieber, BTS, Burna Boy, hingga konduktor Gustavo Dudamel.
Meski demikian, Smith menegaskan keberatannya bukan ditujukan kepada para musisi yang tampil, baik itu Madonna atau BTS. Menurutnya, yang menjadi persoalan adalah konsep pertunjukan paruh waktu itu sendiri.
“Intinya bukan tentang siapa yang menjadi kurator atau penampil, tetapi tentang ide-ide #mugwank (konyol) dari pertunjukan paruh waktu final Piala Dunia sepak bola,” tulis Smith di Instagram.
Pelantun lagu-lagu The Cure itu juga mengkritik rencana seremoni penyerahan trofi Piala Dunia yang melibatkan Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurutnya, konsep tersebut semakin menghilangkan esensi pertandingan sepak bola sebagai puncak kompetisi olahraga.
Dalam unggahan yang sama, Smith menyindir promosi FIFA yang menyebut half-time show sebagai pertunjukan inovatif yang merayakan sepak bola, musik, dan nilai-nilai bersama.
“Sayangnya, tidak cukup huruf A yang tersisa untuk ‘ARGH’ yang seharusnya menyusul,” tulis dia, merujuk pada unggahan sebelumnya yang mengkritik deskripsi FIFA tentang pertunjukan tersebut sebagai “pertunjukan yang inovatif” yang akan “merayakan sepak bola, musik, dan nilai-nilai bersama kita, memastikan warisan yang melampaui peluit akhir.”
Final Piala Dunia FIFA 2026 menjadi ajang pertama yang menghadirkan half-time show bergaya Super Bowl. Selain Madonna, Shakira, Justin Bieber, BTS, Burna Boy, dan Gustavo Dudamel, FIFA juga menghadirkan karakter dari The Muppets serta Sesame Street sebagai bagian dari pertunjukan yang berlangsung di sela pertandingan.
Konsep baru tersebut memang menjadi salah satu inovasi terbesar FIFA pada edisi Piala Dunia 2026. Namun, sebelum pertunjukan digelar, kehadirannya sudah memicu beragam respons, termasuk kritik dari Robert Smith yang menilai tradisi sepak bola tidak memerlukan hiburan paruh waktu bergaya konser musik.





