
JAKARTA, wartametropolitan.com – Festival Ciliwung ke-7 menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pelestarian Sungai Ciliwung sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Mengusung tema “Dari Budaya Kita Selamatkan Alam”, kegiatan yang berlangsung di Padepokan Ciliwung Condet, Balekambang, Kramat Jati, akhir pekan lalu itu menggabungkan nilai budaya dengan kepedulian terhadap ekosistem sungai.

Festival dibuka oleh Wali Kota Jakarta Timur Munjirin. Dalam sambutannya, dia mengatakan festival ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, juga wadah menggerakkan masyarakat untuk merawat Sungai Ciliwung sebagai bagian penting dari kehidupan dan warisan yang perlu dijaga bagi generasi mendatang.
Dalam kesempatan itu, Munjirin memberikan apresiasi kepada para pegiat lingkungan, terutama komunitas Padepokan Ciliwung yang dipimpin Ahmad Maulana atau Bang Lantur. Menurutnya, konsistensi komunitas tersebut telah memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian kawasan Sungai Ciliwung sekaligus mengedukasi masyarakat.
“Saya mengapresiasi dan sangat mendukung apa yang telah dikerjakan Bang Lantur. Mudah-mudahan semakin banyak masyarakat yang tergugah untuk bersama-sama menggerakkan pelestarian lingkungan, khususnya di sepanjang Kali Ciliwung,” kata Munjirin.
Ia menjelaskan, kondisi Sungai Ciliwung kini mulai mengalami perubahan berkat keterlibatan berbagai komunitas yang terus mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Sungai yang sebelumnya kerap dikenal sebagai lokasi pembuangan sampah perlahan bertransformasi menjadi kawasan yang lebih tertata melalui edukasi dan aksi nyata.
Selain mengajak masyarakat menjaga sungai, Munjirin juga mengingatkan pentingnya mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Kebijakan tersebut mengacu pada Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pilah Sampah.
Ia menerangkan bahwa mulai 1 Agustus 2026, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang hanya menerima sampah residu. Karena itu, warga diminta mulai memilah sampah di rumah sesuai jenis agar proses pengelolaan limbah menjadi lebih efektif.
“Sampah organik bisa diolah melalui biopori, komposter, atau maggot. Sampah anorganik disetor ke bank sampah, sedangkan sampah B3 juga dapat disalurkan melalui bank sampah untuk diteruskan ke pengelola yang berwenang,” tuturnya.
Menurut Munjirin, penerapan pemilahan sampah secara konsisten akan berdampak besar terhadap kebersihan Sungai Ciliwung. Ia berharap kawasan sungai dapat berkembang menjadi ruang publik yang bersih, hijau, dan nyaman sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat saat ini maupun generasi berikutnya.
Menutup sambutannya, Munjirin berharap Festival Ciliwung terus berkembang sebagai gerakan yang mampu mengajak lebih banyak masyarakat berpartisipasi dalam menjaga lingkungan sekaligus melestarikan budaya Betawi di kawasan Condet dan sekitarnya.
“Semoga festival ini semakin berkembang, semakin ramai, dan semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya menjaga lingkungan di sepanjang Kali Ciliwung,” ucap dia.





