JAKARTA, wartametropolitan.com – Rencana penyelenggaraan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) dua kali dalam sepekan di Jakarta mendapat dukungan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino. Namun, ia meminta kebijakan tersebut dikaji secara matang agar tujuan mengurangi polusi tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.

Wibi menilai setiap kebijakan yang bertujuan menekan emisi dan memperbaiki kualitas udara Jakarta patut didukung. Meski demikian, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kondisi lalu lintas serta aktivitas warga, terutama jika CFD tambahan digelar pada Sabtu.

“Prinsipnya saya mendukung setiap upaya untuk menurunkan emisi dan membuat Jakarta lebih sehat,” kata Wibi.

Menurut Wibi, Sabtu bukan hari yang sepenuhnya sepi dari aktivitas. Mobilitas pekerja, kegiatan perdagangan, UMKM hingga distribusi logistik masih berlangsung sehingga penutupan ruas jalan perlu diperhitungkan secara cermat.

Ia mengingatkan, kebijakan untuk mengurangi polusi jangan sampai justru membuat persoalan lalu lintas bergeser ke ruas jalan lain.

“Jangan sampai niatnya mengurangi polusi, tapi justru memindahkan kemacetan ke jalan lain dan menambah beban masyarakat,” tutur dia.

Karena itu, Wibi mengusulkan agar CFD dua kali sepekan tidak langsung diterapkan secara luas. Menurutnya, pemerintah perlu melakukan uji coba dalam skala terbatas dan periode tertentu sebelum menentukan pola pelaksanaan yang lebih permanen.

Dalam evaluasi tersebut, dampak kebijakan tidak hanya dilihat dari sisi pengurangan emisi. Kondisi kemacetan, aktivitas UMKM, mobilitas pekerja, serta kelancaran akses logistik juga perlu menjadi bagian dari pengukuran.

“Jangan hanya menghitung berapa kilometer jalan yang ditutup,” ujarnya.

Wibi juga menilai upaya memperbaiki kualitas udara Jakarta perlu berjalan beriringan dengan pembenahan sistem transportasi. Penguatan transportasi publik, konektivitas first-last mile, hingga pengendalian emisi kendaraan dinilai menjadi bagian penting dalam strategi menekan polusi.

Dengan demikian, rencana CFD tambahan diharapkan tidak hanya berorientasi pada pembatasan kendaraan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan mobilitas masyarakat Jakarta.

“Jadi semangatnya saya dukung, tetapi pelaksanaannya harus berpihak kepada warga. Jakarta harus makin sehat tanpa membuat masyarakat makin susah,” ucap dia.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno juga menyampaikan bahwa usulan CFD dua kali dalam sepekan perlu dikaji terlebih dahulu. Ia menyebut pelaksanaan uji coba selama tiga bulan dapat menjadi bahan evaluasi, terutama untuk melihat dampaknya terhadap aktivitas perkantoran dan masyarakat.

Rencana tersebut pun masih membutuhkan kajian agar penerapan CFD tambahan dapat mencapai tujuan pengurangan emisi tanpa mengganggu aktivitas warga dan mobilitas di Jakarta.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *