JAKARTA, wartametropolitan.com – Selama ribuan tahun, lapisan es Antartika berperan sebagai “lemari penyimpanan” alami yang mengurung berbagai polutan berbahaya dari atmosfer. Namun, fungsi tersebut kini mulai terganggu seiring meningkatnya pencairan es akibat pemanasan global.

Temuan terbaru dari para peneliti Universitas Washington mengungkap bahwa pencairan es di Semenanjung Antartika berpotensi melepaskan merkuri yang selama ini terperangkap ke atmosfer dan lingkungan sekitar. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Semenanjung Antartika menjadi perhatian karena termasuk wilayah dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Para peneliti menjelaskan bahwa merkuri yang sebelumnya tersimpan di lapisan es kini mulai memasuki kembali siklus lingkungan yang melibatkan atmosfer, gletser, daratan hingga lautan. Kondisi ini diperkirakan akan semakin cepat terjadi apabila suhu global terus meningkat dan polusi udara tidak berkurang.

Berbeda dengan polutan lain, merkuri tidak akan terurai setelah dilepaskan ke alam. Zat beracun tersebut justru akan berpindah dari satu organisme ke organisme lain melalui rantai makanan dan terus menumpuk di dalam tubuh makhluk hidup. Proses ini dikenal sebagai bioakumulasi.

Fenomena bioakumulasi menjadi alasan mengapa sejumlah ikan predator berukuran besar, seperti tuna dan ikan pedang, sering kali memiliki kandungan merkuri tinggi sehingga memunculkan peringatan kesehatan bagi masyarakat.

Di Samudra Selatan, rantai makanan dimulai dari krill atau krustasea berukuran kecil. Hewan-hewan seperti penguin, anjing laut, hingga paus memperoleh merkuri saat memangsa krill. Sejumlah penelitian sebelumnya juga telah menemukan kandungan merkuri pada satwa liar Antartika.

Sejak awal 2000-an, para ilmuwan menggunakan bulu penguin Adelie dan berbagai jenis burung laut sebagai indikator tingkat pencemaran di Antartika. Hal itu dilakukan karena merkuri terus terakumulasi di dalam tubuh burung-burung tersebut seiring pola makan mereka.

Apabila pencairan gletser menambah pasokan merkuri ke ekosistem, maka kadar logam berat itu diperkirakan akan terus meningkat secara bertahap. Organisme pada tingkat trofik yang lebih tinggi diprediksi memiliki konsentrasi merkuri lebih besar dibandingkan organisme di dasar rantai makanan.

Pola serupa juga ditemukan di kawasan Arktik. Para peneliti yang mempelajari pencairan lapisan tanah beku atau permafrost memperingatkan bahwa proses tersebut turut melepaskan merkuri yang telah tersimpan selama waktu yang sangat lama. Semakin luas pencairan es terjadi, semakin banyak pula material berbahaya yang kembali memasuki lingkungan.

Menurut para ilmuwan, kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi Antartika karena satwa liar di kawasan itu selama ini hanya sedikit terpapar polutan akibat minimnya aktivitas industri manusia. Selain itu, merkuri yang dilepaskan di lingkungan bersuhu dingin dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan di wilayah yang lebih hangat.

Dampak pencairan es juga diperkirakan tidak hanya dirasakan di kawasan Antartika. Burung laut yang bermigrasi dapat membawa merkuri ke belahan bumi lain, sementara polutan yang larut di lautan berpotensi menyebar melalui arus laut. Penelitian ini menjadi pengingat bahwa hilangnya lapisan es bukan hanya memicu kenaikan permukaan laut, tetapi juga membuka kembali “gudang” polutan yang telah tersimpan selama ribuan tahun dengan laju yang sulit dikendalikan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *