JAKARTA, wartametropolitan.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengembangkan aset miliknya di kawasan Ciangir, Kabupaten Tangerang, Banten, menjadi pusat pengolahan organik dan kawasan ketahanan pangan terpadu. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp1 triliun itu dipastikan tidak berkaitan dengan rencana pemindahan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan kawasan tersebut akan difokuskan untuk mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan peternakan, perikanan, serta pertanian perkotaan (urban farming). Hasilnya diharapkan mampu memperkuat pasokan pangan bagi masyarakat Jakarta maupun Banten.

“Ketahanan pangan yang akan dikembangkan di sini salah satunya adalah peternakan sapi, kemudian juga untuk ayam, ikan, dan sebagainya,” ujar Pramono Anung.

Pengembangan kawasan dilakukan di atas lahan seluas sekitar 20 hektare. Dari total luas tersebut, sekitar 17 hektare akan dimanfaatkan sebagai kawasan utama, sedangkan tiga hektare lainnya dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau.

Pramono menegaskan berbagai informasi yang menyebut lokasi tersebut akan dijadikan tempat alternatif TPST Bantargebang tidak benar. Menurutnya, kawasan Ciangir sejak awal dirancang sebagai pusat peternakan terintegrasi, budi daya perikanan, dan pertanian modern.

“Sepenuhnya tempat ini bukan seperti yang dipikirkan orang akan menjadi tempat alternatif Bantargebang, sama sekali enggak,” jelasnya.

Berdasarkan laporan Perumda Dharma Jaya, pembangunan infrastruktur kawasan dijadwalkan dimulai pada November 2026. Nilai investasi yang disiapkan untuk merealisasikan proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp1 triliun.

“Dan juga saya sudah memerintahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup, Dinas KPKP, dan Badan Aset untuk yang menjadi tanggung jawab Pemerintah DKI Jakarta bisa dimulai lebih awal,” ungkapnya.

Selain itu, Pramono telah menginstruksikan organisasi perangkat daerah terkait agar proses pengembangan kawasan dapat dimulai paling lambat pada awal September sesuai dengan rencana pemanfaatannya.

Ia menjelaskan kawasan Ciangir juga menjadi bagian dari strategi baru pengelolaan sampah Jakarta. Sampah organik yang telah diproses di fasilitas TPS 3R nantinya akan diolah menjadi pupuk maupun pakan ternak sebelum dimanfaatkan di kawasan tersebut.

“Karena yang akan dibawa ke sini nantinya adalah pupuknya, pupuk hasil dari TPS 3R yang ada di Jakarta yang kemarin teman-teman juga ikut melihat salah satunya yang ada di Menteng Atas,” kata dia.

Pramono juga meminta agar pengembangan kawasan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal dan pemberdayaan pelaku usaha di wilayah Ciangir. Ia turut mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Banten dalam merealisasikan proyek tersebut.

Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menyatakan mendukung penuh pemanfaatan aset milik Pemprov DKI Jakarta tersebut. Menurutnya, kawasan ketahanan pangan yang akan dibangun diyakini memberikan manfaat luas bagi masyarakat di dua provinsi.

“Kami yakin segala niat baik yang direncanakan oleh Pak Gubernur ini pasti akan bermanfaat bagi kita semua, bagi warga Banten, bagi warga sekitar,” katanya.

Sebagai informasi, kawasan Ciangir nantinya akan dikelola oleh Perumda Dharma Jaya sebagai sentra peternakan sapi terintegrasi yang memanfaatkan 100 persen pakan organik lokal hasil produksi sendiri. Program ini sejalan dengan transformasi sistem pengelolaan sampah Pemprov DKI Jakarta dari pola angkut-buang menjadi pilah-angkut-buang, sekaligus mendukung target agar TPST Bantargebang hanya menerima sampah residu hasil pengolahan menuju penerapan zero open dumping pada 2029.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *