BEKASI, wartametropolitan.com – Kota Bekasi mencatat capaian positif dalam pola hidup generasi mudanya. Data Profil Pemuda 2025 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebanyak 83,10 persen pemuda di Kota Bekasi tercatat tidak merokok.

Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kota lain di Jawa Barat. Kota Depok berada di urutan berikutnya dengan 78,85 persen, disusul Kota Cirebon sebesar 78,09 persen.

Capaian itu mendapat respons positif dari Pemerintah Kota Bekasi. Meski demikian, tingginya angka pemuda yang tidak merokok tidak dianggap sebagai hasil dari satu program atau kebijakan semata. Data tersebut justru dinilai sebagai gambaran perilaku masyarakat yang perlu dipertahankan.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan capaian 83,10 persen harus menjadi pijakan untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat di kalangan generasi muda. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan mereka tidak berubah menjadi perokok akibat pengaruh lingkungan.

“Angka 83,10 persen ini tentu menggembirakan, tetapi bagi kami yang lebih penting adalah bagaimana angka ini bisa kita pertahankan bahkan ditingkatkan. Jangan sampai anak muda yang hari ini memilih tidak merokok justru mulai merokok karena pengaruh lingkungan,” kata Tri.

Untuk menjaga kecenderungan tersebut, Pemkot Bekasi berupaya menghadirkan lebih banyak ruang yang dapat dimanfaatkan anak muda untuk melakukan aktivitas yang sehat. Penyediaan taman, ruang terbuka, fasilitas olahraga hingga pengembangan Sport City menjadi bagian dari strategi tersebut.

Keberadaan fasilitas publik itu diharapkan dapat memberikan pilihan kegiatan yang lebih produktif bagi generasi muda. Dengan demikian, lingkungan pergaulan tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga mendorong aktivitas yang mendukung kesehatan.

“Karena itu pembangunan taman, ruang terbuka, fasilitas olahraga dan pengembangan Sport City terus kami dorong. Anak muda harus punya tempat untuk berkumpul, berolahraga dan berkegiatan secara positif,” ujar dia.

Upaya pencegahan juga dilakukan melalui penguatan Kawasan Tanpa Rokok atau KTR. Pemkot Bekasi memberikan perhatian terhadap tempat-tempat yang menjadi ruang interaksi anak dan remaja, termasuk sekolah serta fasilitas publik.

“Kami ingin ruang publik di Kota Bekasi semakin nyaman untuk semua, terutama anak-anak. Karena itu sekolah dan fasilitas publik terus kami perkuat pengawasannya sebagai kawasan tanpa rokok,” kata Tri.

Menurut Tri, kampanye mengenai bahaya merokok juga perlu menyesuaikan perubahan gaya hidup generasi muda. Perkembangan rokok elektronik atau vape membuat edukasi kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada rokok konvensional.

“Edukasi tentang bahaya merokok tidak boleh berhenti pada rokok konvensional, tetapi juga menyentuh penggunaan rokok elektronik atau vape yang semakin dekat dengan anak muda,” ujarnya.

Pemkot Bekasi menilai upaya mempertahankan generasi muda agar tetap menjauhi rokok tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Peran keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat juga dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan hidup sehat.

“Pemerintah bisa membuat aturan dan menyediakan fasilitas, tetapi kesadaran masyarakat juga diperlukan. Karena itu mari kita jaga bersama agar pilihan hidup sehat semakin mudah bagi anak-anak dan generasi muda kita,” tutur dia.

Dengan persentase pemuda tidak merokok mencapai 83,10 persen, Kota Bekasi kini memiliki modal sosial untuk memperkuat budaya hidup sehat. Pemerintah daerah berharap capaian tersebut tidak hanya menjadi angka dalam statistik, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang bertahan dalam jangka panjang.

“Harapanya tentu adalah anak-anak dan generasi muda Kota Bekasi tumbuh di lingkungan yang semakin sehat dan semakin jauh dari asap rokok,” ucap Tri.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *