JAKARTA, wartametropolitan.com – Keanu Reeves kembali bersiap menjajal genre fiksi ilmiah lewat proyek terbarunya, Shiver. Film yang dijadwalkan tayang pada 13 Agustus 2027 itu menawarkan perpaduan tak biasa antara teror hiu dan konsep perjalanan waktu.

Shiver disutradarai Tim Miller, sineas di balik Deadpool. Film ini menjadi salah satu proyek besar Reeves di luar waralaba John Wick yang kini masih berada dalam tahap pengembangan.

Sebelumnya, Shiver diketahui berkisah tentang seorang penyelundup di Laut Karibia yang terjebak dalam situasi berbahaya. Namun, gambaran terbaru mengenai film tersebut membuat proyek ini terdengar jauh lebih unik karena memadukan unsur film hiu dengan konsep time loop.

Dalam wawancara bersama Collider, Reeves memberikan gambaran singkat mengenai konsep film tersebut. “Hiu. Mesin waktu. Groundhog Day.”

Deskripsi singkat itu langsung memperlihatkan formula yang akan dibawa Shiver. Film ini menggabungkan ketegangan menghadapi predator laut dengan situasi pengulangan waktu yang selama ini menjadi ciri khas sejumlah film fiksi ilmiah.

Reeves memiliki rekam jejak panjang di genre aksi dan fiksi ilmiah. Kariernya melejit setelah membintangi Bill & Ted’s Excellent Adventure, kemudian berlanjut melalui Point Break dan Speed.

Popularitasnya semakin kokoh setelah memerankan Neo dalam The Matrix pada 1999. Setelah sempat mengalami pasang surut, Reeves kembali menjadi salah satu bintang laga terbesar Hollywood melalui waralaba John Wick.

Kini, Reeves memiliki sejumlah proyek yang berpotensi memperluas kiprahnya. Selain Shiver, ia juga terlibat dalam adaptasi komik BRZRKR, karya yang turut ia ciptakan.

Keterlibatan Reeves menjadi salah satu alasan Shiver mendapat perhatian. Apalagi film tersebut menawarkan cerita orisinal yang tidak bergantung pada waralaba lama.

Daya tarik Shiver terletak pada keberanian menggabungkan dua konsep yang berbeda. Unsur hiu menghadirkan ketegangan khas film bertema predator laut, sedangkan perjalanan waktu memberikan ruang untuk eksplorasi cerita yang lebih kompleks.

Konsep tersebut membuat film ini mengingatkan pada The Shallows dalam hal ancaman hiu serta Edge of Tomorrow melalui elemen pengulangan waktu.

Setelah kesuksesan film-film bertema hiu seperti Meg 2: The Trench, kehadiran film blockbuster baru dengan predator laut sebagai salah satu daya tarik utama dinilai memiliki potensi komersial.

Yang membedakan Shiver adalah fondasi fiksi ilmiahnya. Film ini tidak harus mengikuti aturan dunia dari waralaba yang telah lebih dahulu dikenal sehingga memiliki ruang untuk menawarkan cerita baru.

Di tengah antusiasme terhadap Shiver, masa depan John Wick 5 justru menghadirkan tantangan tersendiri. Dalam John Wick: Chapter 4, karakter John Wick dikisahkan meninggal setelah duel terakhirnya.

Akhir tersebut memberikan penutup yang cukup tuntas bagi perjalanan sang pembunuh bayaran. Karena itu, menghadirkan kembali karakter tersebut untuk film kelima berpotensi mengubah makna akhir cerita sebelumnya.

Lionsgate memang memiliki alasan kuat untuk melanjutkan waralaba setelah kesuksesan Chapter 4. Namun, keputusan tersebut juga membawa risiko karena tim produksi harus menemukan cara meyakinkan untuk mengembalikan John Wick tanpa mengurangi dampak emosional film sebelumnya.

Apalagi From the World of John Wick: Ballerina tidak mampu menyamai ekspektasi komersial yang diharapkan. Kondisi tersebut membuat pilihan Reeves untuk mengeksplorasi proyek lain dinilai menarik.

Dengan Shiver, Reeves memiliki kesempatan memperlihatkan kembali daya tariknya melalui karakter dan dunia yang berbeda. Jika konsep hiu, mesin waktu, serta time loop berhasil dieksekusi dengan baik, film tersebut berpotensi menjadi salah satu tontonan fiksi ilmiah yang mencuri perhatian pada 2027.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *