JAKARTA, WartaMetropolitan.com – Tekanan darah tinggi masih menjadi masalah kesehatan global yang memengaruhi hampir separuh orang dewasa. Meski perubahan gaya hidup seperti pola makan seimbang, olahraga rutin, dan menghindari rokok tetap menjadi fondasi utama, sebagian besar penderita hipertensi tetap memerlukan obat untuk menjaga tekanan darah dalam batas aman.

Data menunjukkan, tidak sedikit pasien yang telah mengonsumsi obat antihipertensi masih membutuhkan penyesuaian dosis atau tambahan obat lain agar target tekanan darah tercapai. Kondisi ini membuat pemahaman tentang faktor pendukung pengobatan, termasuk pola konsumsi makanan dan minuman, menjadi semakin penting.

Sejumlah ahli menekankan bahwa makanan tertentu dapat memengaruhi cara kerja obat tekanan darah di dalam tubuh. Bahkan, asupan yang dinilai sehat sekalipun bisa berdampak pada efektivitas obat jika dikonsumsi tanpa pengawasan.

“Anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi makanan yang Anda masukkan ke dalam mulut Anda mungkin mengubah seberapa baik obat tekanan darah Anda bekerja. Makanan tertentu dapat membuat obat Anda lebih atau kurang efektif. Agar obat tekanan darah Anda bekerja secara optimal, penting untuk memiliki jumlah obat yang stabil dan dapat diprediksi dalam darah Anda setiap saat,” kata Erika Gray, Pharm.D. dikutip eatingwell.

Berikut sejumlah makanan dan minuman yang perlu diperhatikan oleh pasien yang mengonsumsi obat tekanan darah, berdasarkan rekomendasi para ahli.

1. Jeruk Bali

Jeruk bali dan jus jeruk bali perlu dihindari oleh pengguna obat tekanan darah jenis penghambat saluran kalsium. Buah ini dapat mengganggu enzim pemecah obat, sehingga kadar obat di dalam darah menjadi terlalu tinggi.

Kondisi tersebut berisiko memicu pusing berat, tekanan darah terlalu rendah, hingga gangguan irama jantung. Karena itu, ahli menyarankan untuk menghindari jeruk bali sepenuhnya jika mengonsumsi obat golongan ini.

2. Makanan Tinggi Kalium

Beberapa obat tekanan darah, seperti penghambat ACE, ARB, dan diuretik hemat kalium, dapat menyebabkan penumpukan kalium dalam tubuh. Kelebihan kalium atau hiperkalemia berpotensi membahayakan irama jantung jika tidak dikendalikan.

“Kelebihan kalium dalam tubuh dikenal sebagai hiperkalemia, dan dapat sangat berbahaya, memengaruhi irama jantung, jika tidak ditangani dengan benar,” tulis Gray.

Pasien juga diminta waspada terhadap produk rendah natrium yang menggunakan pengganti garam berbasis kalium, seperti kalium klorida, yang kerap ditemukan pada makanan beku dan sup kemasan.

3. Minuman Beralkohol

Alkohol diketahui dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, berlawanan dengan fungsi sejumlah obat antihipertensi, khususnya beta-blocker. Konsumsi alkohol saat menggunakan obat jenis ini berpotensi memicu pusing hingga gangguan keseimbangan.

“Beta-blocker membantu memperlambat detak jantung dan merelaksasi pembuluh darah, yang pada akhirnya menurunkan tekanan darah. Obat-obatan ini harus dikonsumsi bersama makanan, tetapi tidak bersama alkohol,” ujar Ginger Hultin, D.C.N., RDN, CSO.

Gray juga menekankan bahwa kombinasi alkohol dan beta-blocker dapat meningkatkan risiko pusing, terutama bagi individu yang sensitif terhadap alkohol.

4. Makanan Tinggi Lemak

Pada jenis beta-blocker tertentu, seperti propranolol lepas cepat, konsumsi makanan tinggi lemak dapat memengaruhi penyerapan obat secara tidak terduga.

“Makanan tinggi lemak dapat meningkatkan penyerapan propranolol dengan cara yang tidak dapat diprediksi. Untuk memastikan hasil yang konsisten, sebaiknya minum obat ini saat perut kosong (satu jam sebelum atau dua jam setelah makan),” jelas Gray.

5. Makanan Tinggi Natrium

Asupan natrium berlebih diketahui dapat menurunkan efektivitas obat tekanan darah, terutama penghambat ACE. Natrium berlebih dapat menghambat proses pelebaran pembuluh darah yang menjadi tujuan utama obat tersebut.

“Pasien yang mengonsumsi obat penghambat ACE mungkin disarankan untuk mengikuti diet rendah garam, dan harus berhati-hati dengan pengganti garam kalium atau suplemen yang mengandung kalium,” ujar Hultin.

Para ahli menegaskan bahwa pengelolaan hipertensi tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga pada pemilihan makanan yang tepat. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan, termasuk apoteker dan ahli gizi, dinilai penting agar terapi berjalan optimal.

“Saran nutrisi bukanlah solusi umum dan harus selalu dipersonalisasi untuk Anda. Jika Anda diresepkan salah satu obat ini, pastikan untuk meminta rujukan ke ahli gizi untuk rekomendasi nutrisi individual,” ucap dia.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *