JAKARTA, wartametropolitan.com – Olivia Rodrigo mengungkap kisah personal yang melatarbelakangi album studio ketiganya, you seem pretty sad for a girl so in love (yspsfagsil). Hal itu dibeberkan menjelang dimulainya The Unraveled Tour pada pekan ini.

Dalam surat yang ditujukan kepada Grammy Museum, Olivia Rodrigo menjelaskan proses kreatif di balik album tersebut. Musisi 23 tahun itu mengaku menghabiskan waktu dua tahun untuk menulis sekaligus merekam materi yang kemudian menjadi rangkaian cerita mengenai sebuah hubungan asmara.

“Saya menulis dan merekam you seem pretty sad for a girl so in love selama kurun waktu dua tahun. Ini adalah kisah kronologis sebuah hubungan asmara, dari awal hingga akhir. Mulai dari drop dead hingga cigarette smoke, ini adalah perjalanan hubungan dewasa pertama saya—dari segala kegembiraan dan kemungkinan di awal, hingga perlahan runtuh, dan akhirnya, patah hati yang menyertainya,” kata Olivia Rodrigo.

Album tersebut tidak hanya merekam fase bahagia dalam sebuah hubungan. Rodrigo juga menjadikan berbagai perasaan yang muncul selama menjalin asmara sebagai bahan eksplorasi dalam penulisan lagu.

“Saat membuat album ini, saya terus memikirkan bagaimana sukacita dan melankoli bisa hadir berdampingan dalam sebuah hubungan. Sebagai penulis lagu, proses ini menjadi sarana katarsis bagi saya untuk mengeksplorasi perasaan-perasaan yang tidak terlalu kentara yang muncul saat jatuh cinta. Saya harus merasakan kembali segala kecemasan, kerinduan, kecemburuan, dan kesedihan itu, hingga akhirnya saya menyadari bahwa jatuh cinta benar-benar bisa membuat seseorang merasa seolah-olah akan menjadi gila,” tutur dia.

Salah satu lagu yang memiliki makna khusus bagi Rodrigo adalah the cure. Ia menyebut lagu tersebut sebagai inti dari album sekaligus karya favorit yang pernah ditulisnya.

“Inti dari album ini—sekaligus lagu favorit yang pernah saya tulis—adalah the cure. Saya menulis lagu itu berdasarkan kesadaran yang menyadarkan saya bahwa menjalin hubungan ternyata tidak akan memperbaiki diri saya ataupun mengatasi rasa tidak aman (insecurity) saya seperti yang selama ini saya harapkan,” ujar Rodrigo.

Album ini juga menandai pengalaman kolaborasi pertama Rodrigo dengan musisi yang ia kagumi, Robert Smith. Vokalis The Cure tersebut terlibat dalam lagu “what’s wrong with me”.

“Album ini juga menampilkan kolaborasi pertama saya dengan sosok yang saya idolakan secara pribadi, Robert Smith. Kehadirannya dalam lagu ‘what’s wrong with me’ dan kesempatan untuk berkolaborasi dengannya benar-benar merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Saya masih sulit memercayai hal itu benar-benar terjadi,” katanya.

Bagi Rodrigo, album tersebut menjadi dokumentasi sebuah periode penting dalam kehidupannya. Ia juga merasa senang ketika pendengar memberikan interpretasi masing-masing terhadap lagu-lagu yang terdapat di dalamnya.

“Album ini merangkum babak yang sangat membentuk jati diri saya, dan saat orang-orang yang telah mendengarkannya membagikan interpretasi mereka terhadap lagu-lagu tersebut, saya merasa sangat bangga. Itulah hal terbaik yang bisa saya harapkan: agar lagu-lagu ini menjadi bagian dari kisah hidup orang lain dan membantu mereka untuk terus melangkah maju,” tutur dia.

Menjelang rangkaian tur yang akan dimulai, Rodrigo turut menyampaikan apresiasi kepada para pendengar yang telah menjadikan album tersebut bagian dari kehidupan mereka.

“Terima kasih banyak telah mendengarkan album ini. Saya harap kalian juga bisa menemukan diri kalian dalam lagu-lagu ini dan menjadikannya bagian dari hidup kalian sendiri,” ucap Rodrigo.

The Unraveled Tour kemudian menjadi kesempatan bagi Rodrigo untuk membawa materi dari you seem pretty sad for a girl so in love ke atas panggung. Album tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pengalaman cinta, kegelisahan, hingga proses menerima kenyataan dapat diterjemahkan Rodrigo ke dalam karya musik.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *