
JAKARTA, WartaMetropolitan.com — Tingginya curah hujan disertai kelembaban udara diperkirakan meningkatkan risiko penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Jakarta pada Januari 2026. Seluruh daerah di Ibu Kota masuk dalam kategori waspada terhadap potensi peningkatan kasus penyakit tersebut.
Faktor utama adalah tingginya tingkat kecocokan kelembaban udara atau relative humidity (RH) terhadap perkembangan nyamuk Aedes aegypti sebagai penularan DBD. Semakin sesuai kondisi RH, maka peluang peningkatan kasus DBD juga semakin besar.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberi peringatan dini. Berdasarkan analisis cuaca, BMKG memprediksi tingkat kecocokan RH untuk perkembangan nyamuk DBD dengan ambang batas di atas 70 persen telah terpenuhi secara signifikan.
“Tingginya curah hujan dan tingkat kelembaban udara (RH) yang sesuai dapat meningkatkan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Semakin tinggi probobalitas kecocokan kelembaban udara, semakin besar potensi kasus DBD bertambah,” tulis BMKG di media sosial.
Kondisi ini mulai terpantau sejak Desember 2025, di mana BMKG mencatat pada periode tersebut, seluruh wilayah Jakarta menunjukkan tingkat keyakinan tinggi dengan probabilitas kecocokan RH lebih dari 90 persen, kondisi yang dinilai sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.
“Yuk waspadai penjangkitan kasus DBD di wilayah Jakarta bulan Januari 2026. Kategori waspada diprakirakan terjadi di seluruh wilayah Jakarta,” tulis BMKG.
Antisipasi sejak dini diperlukan akibat tingginya curah hujan yang dapat menciptakan banyak genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak. Ditambah dengan kelembaban udara yang tinggi, siklus hidup nyamuk menjadi lebih cepat dan meningkatkan potensi penularan penyakit ke manusia.
Dengan kondisi cuaca yang masih didominasi hujan dan kelembaban tinggi, warga Jakarta diimbau untuk tidak lengah dan terus meningkatkan langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan kasus DBD di awal tahun 2026.





