
JAKARTA, WartaMetropolitan.com – Kebahagiaan hidup kerap dikaitkan dengan kondisi mental dan emosional. Namun, para ahli menilai anggapan tersebut belum sepenuhnya tepat. Penelitian dan pandangan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa usus memiliki peran penting dalam menentukan suasana hati dan tingkat kebahagiaan seseorang.
Ahli bedah dan popularis ilmu kesehatan, Mario Alonso Puig mengatakan pencarian solusi untuk mencapai kebahagiaan lebih sering berfokus pada otak dan pengelolaan emosi. Padahal, pusat keseimbangan emosional manusia justru banyak dipengaruhi oleh sistem pencernaan.
Secara ilmiah, usus diketahui berperan besar dalam produksi serotonin, senyawa kimia yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan. Sekitar 90 persen serotonin diproduksi di saluran pencernaan, bukan di otak. Karena itu, usus kerap disebut sebagai otak kedua yang berpengaruh langsung terhadap kondisi emosional manusia.
Fungsi tersebut menjadikan pola makan sebagai faktor krusial dalam menjaga stabilitas suasana hati. Asupan makanan tidak hanya berdampak pada sistem pencernaan, tetapi juga memengaruhi emosi, respons terhadap stres, serta kemampuan menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.
Para ahli menekankan pentingnya menjaga mikrobiota usus melalui pola makan seimbang dan sehat. Konsumsi probiotik, prebiotik, serta serat dalam jumlah memadai dianjurkan untuk mendukung kinerja usus. Sebaliknya, makanan ultra-olahan disarankan untuk dihindari karena berpotensi mengganggu keseimbangan mikroorganisme dalam tubuh.
Hubungan antara usus dan emosi tidak berjalan satu arah. Kondisi psikologis seperti stres dan kecemasan juga dapat memengaruhi sistem pencernaan, memicu gangguan yang pada akhirnya berdampak kembali pada kesehatan mental. Keterkaitan dua arah antara pikiran dan tubuh ini memperkuat pentingnya perawatan holistik.
Oleh karena itu, perhatian terhadap kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada fisik, tetapi juga mencakup faktor emosional dan lingkungan eksternal. Mengabaikan keseimbangan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, baik pada sistem pencernaan maupun kondisi mental dan psikologis.
Di tengah ritme kehidupan yang kian cepat, para ahli menyarankan agar masyarakat tetap meluangkan waktu untuk merawat diri. Menerapkan pola makan seimbang, mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat dengan cukup, serta menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga keseimbangan tubuh dan emosi secara menyeluruh.





