
JAKARTA, wartametropolitan.com – Sebuah langkah baru dalam dunia kesehatan dan teknologi tercatat setelah vaksin yang dirancang sepenuhnya menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk pertama kalinya menjalani uji coba pada manusia.
Vaksin eksperimental tersebut dikembangkan untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai virus corona yang pernah memicu wabah global, termasuk SARS, MERS, dan Covid-19.
Penelitian yang dipimpin para ilmuwan dari Universitas Cambridge, Inggris, itu dipublikasikan pada Jumat (5/6/2026). Mereka menyebut vaksin tersebut sebagai kandidat “vaksin universal” yang diharapkan mampu melindungi manusia dari berbagai jenis virus corona, termasuk patogen baru yang berpotensi muncul di masa mendatang.
Menurut para peneliti, seluruh komponen antigen utama dalam vaksin dirancang menggunakan algoritma pembelajaran mesin yang memanfaatkan data genetik virus corona Sarbeco yang telah dikumpulkan dari berbagai wilayah dunia.
Uji klinis fase pertama dilakukan terhadap hampir 40 relawan sepanjang periode akhir 2021 hingga 2023. Tahap ini difokuskan untuk menilai keamanan dan tolerabilitas vaksin, bukan untuk mengukur efektivitas perlindungannya secara menyeluruh.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan efek samping serius selama pelaksanaan uji coba. Namun, respons sistem kekebalan yang dihasilkan vaksin masih tergolong terbatas.
Dalam laporan yang diterbitkan di Journal of Infection, para peneliti menyebut vaksin tersebut hanya menghasilkan efek “modest” atau moderat terhadap sistem imun peserta.
Peneliti Universitas Cambridge sekaligus salah satu penulis studi, Jonathan Heeney, menilai pendekatan berbasis AI berpotensi mengubah arah pengembangan vaksin di masa depan.
“Kami telah mengubah pengembangan vaksin dari reaktif menjadi tahan terhadap perubahan di masa depan,” kata Jonathan Heeney.
Ia menjelaskan bahwa vaksin konvensional untuk influenza maupun Covid-19 selama ini harus terus diperbarui mengikuti munculnya varian baru. Sementara vaksin universal dirancang untuk membentuk perlindungan yang lebih luas terhadap banyak virus sekaligus.
“Ini berarti kita dapat menghindari siklus konstan mengejar varian virus yang beredar di manusia dan memperbarui vaksin untuk mencoba mengejar ketinggalan, seperti anjing mengejar ekornya sendiri,” ujar Heeney.
Meski hasil awal menunjukkan tingkat respons antibodi yang belum optimal, penelitian ini dianggap sebagai tonggak penting dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pengembangan vaksin.
Para peneliti kini bersiap melanjutkan penelitian ke uji klinis fase kedua yang melibatkan jumlah peserta lebih besar. Tahap tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kemampuan vaksin dalam memberikan perlindungan terhadap berbagai virus corona yang berpotensi memicu pandemi di masa depan.





