
JAKARTA, wartametropolitan.com – Pernah merasa sulit mengatakan “aku sayang ibu”? Perasaan itulah yang menjadi denyut utama film Takkan Kubiarkan Kau Menangis. Dibalut drama keluarga dan sentuhan musik, film ini mengingatkan bahwa cinta kepada orang tua tak cukup hanya dirasakan, juga perlu diungkapkan.
Takkan Kubiarkan Kau Menangis hadir membawa kisah emosional tentang hubungan ibu dan anak yang penuh dinamika. Diproduksi Langit Pictures Indonesia, film ini tidak hanya menyajikan drama keluarga, juga menjadikan musik sebagai medium untuk menyampaikan perasaan yang sulit diungkapkan.
Ferly Halim yang menjadi sutradara dan produser ini mengatakan Takkan Kubiarkan Kau Menangis memadukan unsur family drama, coming-of-age, dan musik dalam cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Mengambil latar Kota Semarang, film ini mengikuti perjalanan Dika, seorang remaja yang merasa dirinya tidak pernah cukup di mata sang ibu, Dini.
Dini merupakan seorang ibu tunggal yang masih berusaha berdamai dengan trauma masa lalu. Perbedaan cara pandang dan komunikasi membuat hubungan keduanya semakin renggang. Namun, Dika menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri melalui musik bersama teman-temannya. Sebuah lagu kemudian menjadi jalan untuk mempertemukan kembali hati ibu dan anak.
Ferly Halim mengatakan, film yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026 ini berangkat dari realitas yang sering terjadi dalam hubungan keluarga. Menurutnya, konflik antara orang tua dan anak tidak selalu muncul karena hilangnya kasih sayang, melainkan akibat perbedaan cara berkomunikasi.
“Menurut saya, hubungan ibu dan anak sering kali dipenuhi kesalahpahaman bukan karena mereka tidak saling mencintai, tetapi karena cara berkomunikasi yang berbeda. Terkadang hal sederhana seperti intonasi atau cara penyampaian bisa membuat ibu merasa anaknya tidak patuh, sementara anak merasa ibunya tidak menyayangi dirinya,” ujar Ferly Halim.
Melalui Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly ingin mengingatkan bahwa komunikasi menjadi kunci penting dalam membangun keluarga yang hangat. Ia juga menghadirkan musik sebagai bahasa yang mampu menyampaikan emosi yang terkadang sulit diutarakan secara langsung.
“Sebagai anak, kita sering kali menganggap kasih sayang kepada ibu sebagai sesuatu yang sudah dipahami tanpa perlu diungkapkan. Padahal, ibu juga perlu merasakan dan mendengar bentuk kasih sayang itu secara langsung. Melalui film ini, saya ingin mengajak semua orang untuk lebih berani menunjukkan cinta kepada ibu selagi masih memiliki kesempatan,” kata Ferly Halim.
Tak hanya membawa pesan tentang keluarga, film ini juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pemainnya. Didi Riyadi mengungkapkan pengalaman berbeda saat harus mendalami karakter dengan logat Jawa yang cukup kental.
“Mungkin ini pertama kali saya dengan logat dan aksen Jawa, medok gitu. Saya kan kalau bicara sehari-hari logat seperti yang kalian sekarang dengar. Nah, di sini orang Jawa, tapi agak campur,” ujar Didi Riyadi.
Sementara itu, Ari Irham mengaku memiliki tantangan tersendiri ketika harus membawakan lagu milik Sheila On 7 yang sudah sangat dikenal masyarakat. Menurutnya, menyanyikan lagu dari band legendaris tersebut memberikan tekanan tersendiri karena ia bukan seorang vokalis profesional.
“Pressure-nya itu bukan bawain OST atau soundtrack filmnya. Masalahnya ini bawain lagu Sheila On 7. Kita bawain lagu Sheila On 7 yang orang sudah tahu. Yang saya nyanyikan adalah lagu Sheila On 7, jadi itu lumayan cukup beban buat saya karena saya juga bukan vokalis, saya juga bukan Duta,” ungkap Ari Irham.
Kekuatan musik menjadi salah satu elemen penting dalam film ini. Takkan Kubiarkan Kau Menangis menghadirkan lagu-lagu legendaris Sheila On 7 seperti “Dan”, “Kita”, dan “Hujan Turun” yang membawa nuansa nostalgia bagi penonton.
Selain itu, film ini juga memiliki dua lagu orisinal berjudul “Takkan Kubiarkan Kau Menangis” dan “Sahabat” yang dibawakan Keisha Alvaro bersama Sand Band untuk memperkuat perjalanan emosional para karakter.
Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis dibintangi oleh Ari Irham, Shanty, Ariyo Wahab, Agoye Mahendra, Emiliano Cortizo, Teuku Rizky, Annisa Kayla, Askara Halim, Sandy Andarusman, dan Didi Riyadi.





