
JAKARTA, wartametropolitan.com – World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa risiko penyebaran hantavirus kepada masyarakat umum masih tergolong sangat rendah meski wabah virus tersebut muncul di kapal pesiar MV Hondius dan menyebabkan kematian sejumlah penumpang.
Pernyataan itu disampaikan juru bicara WHO, Christian Lindmeier, dalam konferensi pers di Jenewa pada Kamis waktu setempat. Ia menyebut virus tersebut memang berbahaya bagi individu yang terinfeksi, namun tidak mudah menular antar manusia.
“Ini adalah virus yang berbahaya, tetapi hanya bagi orang yang benar-benar terinfeksi, dan risiko bagi masyarakat umum tetap sangat rendah,” kata Lindmeier.
Wabah tersebut terjadi di kapal pesiar MV Hondius yang tengah melakukan pelayaran dari Ushuaia, Argentina, menuju Tenerife, Spanyol, sejak 1 April. Hingga kini, WHO mencatat terdapat lima kasus hantavirus yang telah terkonfirmasi dan tiga kasus lainnya masih dicurigai.
Kasus itu memicu perhatian internasional karena sejumlah penumpang diketahui dirawat atau menjalani isolasi di beberapa negara, termasuk Inggris, Jerman, Belanda, Swiss, dan Afrika Selatan.
WHO menegaskan bahwa pola penularan hantavirus berbeda jauh dengan virus yang mudah menyebar melalui udara seperti Covid-19 atau campak. Lindmeier menyebut kontak sangat dekat menjadi faktor utama penularan.
“Ini bukan Covid baru… Ini sama sekali tidak mirip campak,” ujar dia.
Ia menjelaskan, keberadaan seseorang di dekat penderita yang batuk belum tentu membuat orang lain tertular. Menurutnya, penularan baru berpotensi terjadi bila ada kontak fisik sangat dekat.
“Anda harus benar-benar berada di depan wajah orang tersebut… Jika Anda berbagi air liur, (dan) meludah juga akan menjadi masalah,” katanya.
WHO juga menyoroti sejumlah kasus yang menunjukkan rendahnya tingkat penularan virus tersebut. Salah satunya adalah seorang pramugari asal Belanda yang sempat melakukan kontak dekat dengan penumpang wanita yang kemudian meninggal akibat hantavirus di Johannesburg, Afrika Selatan.
Meski sempat dikhawatirkan tertular, hasil pemeriksaan menunjukkan pramugari tersebut negatif hantavirus.
Selain itu, seorang pria Swiss yang dirawat di Zurich juga dilaporkan positif terinfeksi hantavirus setelah melakukan perjalanan dengan kapal pesiar tersebut. Namun istrinya yang turut bepergian bersamanya tidak menunjukkan gejala dan kini menjalani isolasi mandiri.
“Itu menunjukkan kepada Anda lagi, untungnya, bahwa tampaknya virus tersebut tidak terlalu menular sehingga mudah berpindah dari orang ke orang,” katanya.
Kondisi tersebut dinilai memberi harapan bagi wilayah-wilayah yang sempat disinggahi kapal pesiar selama pelayaran, termasuk Pulau Saint Helena di Samudra Atlantik Selatan. Sebanyak 30 penumpang diketahui turun di pulau terpencil milik Inggris itu pada 24 April, termasuk jenazah korban pertama dalam wabah tersebut.





