
JAKARTA, wartametropolitan.com – Salah satu fenomena astronomi paling menakjubkan di langit, gerhana matahari total, diperkirakan tidak akan bisa disaksikan selamanya dari Bumi.
Para ilmuwan mengungkapkan bahwa kondisi tersebut terjadi karena Moon perlahan terus bergerak menjauh dari Earth.
Gerhana matahari total sendiri terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi hingga cahaya Matahari tertutup sepenuhnya. Dalam kondisi itu, Bulan menciptakan bayangan gelap yang dikenal sebagai jalur totalitas di wilayah tertentu di permukaan Bumi.
Namun, berdasarkan hasil pengukuran ilmiah selama puluhan tahun, Bulan diketahui menjauh dari Bumi dengan kecepatan sekitar 3,8 sentimeter per tahun.
Pengukuran tersebut dilakukan menggunakan teknologi sinar laser yang dipantulkan melalui cermin peninggalan misi Apollo yang ditempatkan di permukaan Bulan oleh astronaut Amerika Serikat.
Walau pergeserannya terlihat sangat kecil, perubahan itu perlahan memengaruhi geometri antara Bumi dan Bulan.
Akibatnya, Bulan akan tampak semakin kecil jika dilihat dari Bumi sehingga pada masa depan tidak lagi mampu menutupi seluruh cakram Matahari saat terjadi gerhana.
Jika kondisi tersebut terjadi, maka gerhana matahari total dipastikan tidak akan bisa terbentuk lagi.
Meski demikian, fenomena gerhana matahari total masih dapat disaksikan dalam waktu sangat lama. Berdasarkan prediksi astronomi saat ini, gerhana matahari total berikutnya diperkirakan terjadi pada 12 Agustus 2026.
Sementara itu, proyeksi ilmiah menyebut Bumi kemungkinan baru akan mengalami gerhana matahari total terakhir sekitar 600 juta hingga 1 miliar tahun mendatang.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan kecil di alam semesta dapat membawa dampak besar terhadap berbagai peristiwa astronomi yang selama ini dianggap abadi.





