
JAKARTA, wartametropolitan.com – Jakarta selama ini lekat dengan gedung pencakar langit, jalan raya yang padat, serta denyut kehidupan metropolitan yang nyaris tak pernah berhenti. Namun, di balik wajah urban tersebut, tersimpan lanskap lain yang menawarkan ketenangan, gugusan pulau di Kepulauan Seribu.
Pesona itu diperkenalkan kepada 20 delegasi Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 yang diwakili Turki, Malaysia, Inggris dan India melalui perjalanan wisata ke Pulau Cipir dan Pulau Payung (Batumera), Kepulauan Seribu.
Pulau Cipir menjadi salah satu tujuan dalam perjalanan tersebut. Pulau ini menawarkan bentang pesisir dengan hamparan pasir dan panorama laut yang menghadirkan nuansa tropis.
Keindahan alam bukan satu-satunya daya tarik Cipir. Pulau tersebut juga menyimpan jejak sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Kepulauan Seribu.
Bagi para delegasi, kunjungan ke Cipir memberikan pengalaman yang tidak sekadar menikmati panorama. Destinasi wisata dan cerita sejarah berpadu dalam satu perjalanan, memperlihatkan bahwa Jakarta memiliki ruang-ruang wisata yang berbeda dari citra metropolitan yang selama ini lebih dikenal.
Dari Cipir, perjalanan berlanjut ke Pulau Payung atau Batumera. Suasananya terasa lebih teduh dan alami, dengan hamparan laut, garis pantai, serta lingkungan pulau yang asri.
Di tempat ini, para delegasi dapat menikmati sisi Jakarta yang lebih hening. Laut dan lanskap pesisir menjadi latar perjalanan, menghadirkan gambaran tentang Jakarta sebagai kota metropolitan yang ternyata memiliki destinasi tropis yang dapat dijangkau dari kawasan ibu kota.
Perjalanan tersebut digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari dukungan terhadap penyelenggaraan IIBF 2026 yang berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Assembly Hall & Lower Lobby, Jakarta International Convention Center (JICC).
Kegiatan familiarization trip atau famtrip tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan Kepulauan Seribu kepada delegasi dari berbagai negara. Para peserta juga memperoleh cenderamata pariwisata Jakarta sebagai bagian dari pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta Andhika Permata mengatakan, kunjungan tersebut dirancang agar delegasi internasional dapat merasakan secara langsung keberagaman destinasi yang dimiliki Jakarta.
“Kami ingin para delegasi mendapatkan pengalaman langsung bahwa Jakarta memiliki destinasi yang beragam, termasuk wisata bahari di Kepulauan Seribu. Kami berharap mereka membawa pulang kesan positif dari Pulau Cipir dan Pulau Payung serta membagikan pengalaman tersebut kepada jejaring mereka di negara masing-masing,” kata Andhika.
Dikatakannya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan literasi dalam sebuah kegiatan berskala internasional.
Jakarta tidak hanya diperkenalkan sebagai lokasi berlangsungnya pameran buku, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk mengenal kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia.
“Selain memperkenalkan destinasi, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membangun jejaring internasional dan memperluas peluang promosi pariwisata Jakarta di pasar global,” tuturnya.
Kepala Bidang Pemasaran Disparekraf Provinsi DKI Jakarta Lucky Wulandari menilai pengalaman langsung memiliki peran penting dalam memperkenalkan sebuah destinasi.
Menurut dia, wisatawan akan memperoleh gambaran yang lebih utuh ketika mereka tidak hanya melihat informasi tentang sebuah tempat, tetapi datang, menikmati suasana, dan merasakan sendiri pengalaman di destinasi tersebut.
“Melalui famtrip ini, kami ingin menunjukkan bahwa Jakarta memiliki pengalaman wisata yang lengkap, mulai dari kekayaan budaya dan sejarah hingga wisata bahari yang dapat dinikmati di Kepulauan Seribu,” kata Lucky.
Bagi promosi pariwisata, perjalanan semacam ini juga membuka peluang penyebaran cerita dari para delegasi kepada jejaring mereka di luar negeri.
Ketua Subkelompok Pemasaran Pariwisata Luar Negeri Dinas Parekraf DKI Jakarta Ervienia Oryza menjelaskan, pengalaman personal dapat menjadi salah satu pintu promosi yang menjangkau masyarakat lebih luas.
“Ketika sebuah destinasi menjadi bagian dari pengalaman pribadi, potensi untuk dibagikan melalui jejaring, komunitas, maupun kanal digital akan semakin besar. Ini menjadi salah satu cara kami memperluas international exposure pariwisata Jakarta,” ungkapnya.
Kunjungan delegasi IIBF 2026 ke Pulau Cipir dan Pulau Payung pada akhirnya memperlihatkan wajah Jakarta yang mungkin belum banyak dikenal dunia.
Di satu sisi, Jakarta adalah kota dengan aktivitas metropolitan yang dinamis. Di sisi lain, kota ini memiliki Kepulauan Seribu dengan pesisir, laut, suasana alami, dan jejak sejarah yang menawarkan pengalaman berbeda.
Melalui famtrip tersebut, keindahan Pulau Cipir dan Pulau Payung tidak sekadar menjadi tujuan perjalanan bagi para delegasi. Kedua pulau itu juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan wajah bahari Jakarta kepada pasar internasional.
IIBF sendiri merupakan pameran buku internasional tahunan yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi). Pada 2026, ajang tersebut memasuki penyelenggaraan ke-46 dengan tema Read Today, Lead Tomorrow.
IIBF 2026 menargetkan lebih dari 300.000 pengunjung, melibatkan 25 negara dan lebih dari 300 peserta, serta menghadirkan lebih dari 200 kegiatan literasi.





