
BEKASI, wartametropolitan.com – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyosialisasikan peluang kerja kepada siswa SMK Negeri 1 dan SMK Negeri 2 Kota Bekasi dalam proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bantargebang. Proyek ini berpotensi menyerap 1.000 lapangan kerja.
Kegiatan ini bertujuan mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Melalui sosialisasi sejak dini, para siswa diharapkan dapat mempersiapkan keterampilan sesuai bidang yang dibutuhkan dalam operasional fasilitas pengolahan sampah tersebut.
Tri Adhianto menyebut peluang kerja itu dapat dimanfaatkan lulusan SMK, terutama mereka yang memiliki keahlian di bidang teknik, kelistrikan, serta kompetensi lain yang relevan. Pemerintah Kota Bekasi berupaya membuka akses informasi agar generasi muda setempat memiliki kesempatan untuk bersaing dalam proyek pembangunan di wilayahnya.
“Kita ingin anak-anak SMK di Kota Bekasi tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Potensi 1.000 lapangan kerja di PSEL ini kita buka aksesnya agar anak-anak kejuruan kita yang memiliki kompetensi bisa langsung daftar dan bersaing. Pemerintah hadir untuk menjembatani antara kebutuhan industri dan potensi siswa lokal,” ujar Tri Adhianto.
Selain membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, pembangunan PSEL Bantargebang diarahkan untuk mendukung penanganan persoalan sampah di Kota Bekasi melalui pemanfaatan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Fasilitas tersebut direncanakan mampu mengolah sekitar 1.200 ton sampah per hari menjadi energi listrik. Kehadiran PSEL diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif.
Meski demikian, Tri Adhianto menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Kota Bekasi masih menghadapi tantangan. Berdasarkan angka yang disampaikan dalam sosialisasi, masih terdapat sekitar 300 ton sampah per hari yang belum terakomodasi dalam kapasitas pengolahan tersebut.
“PSEL akan mengelola 1.200 ton sampah menjadi energi listrik. Namun, masih ada PR sekitar 300 ton sampah per hari yang belum ter-cover dan ini menjadi pekerjaan rumah kita semua. Diperlukan kolaborasi dan kesadaran bersama dari seluruh elemen masyarakat dalam mengelola serta mengurangi sampah dari hilir hingga hulu,” tutur Tri.
Menurutnya, penyelesaian persoalan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pembangunan fasilitas pengolahan. Diperlukan pula keterlibatan masyarakat melalui pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan sampah, serta penguatan kebiasaan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Melalui kegiatan sosialisasi di SMKN 1 dan SMKN 2 Kota Bekasi, Pemerintah Kota Bekasi berharap para siswa memperoleh gambaran mengenai peluang kerja yang berpotensi hadir seiring pengembangan proyek PSEL. Sosialisasi ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong kesiapan sumber daya manusia lokal agar mampu memenuhi kebutuhan dunia industri.
Keterlibatan lulusan SMK diharapkan tidak hanya terbatas pada penyerapan tenaga kerja, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan kompetensi generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan industri masa depan.
Pemerintah Kota Bekasi juga mendorong agar peluang kerja yang tersedia dapat diakses secara terbuka oleh putra-putri daerah sesuai dengan kompetensi dan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak pengelola proyek.
Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dunia industri dan masyarakat, proyek PSEL Bantargebang diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik dalam membuka peluang kerja maupun mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.





