
JAKARTA, wartametropolitan.com – Isu “kutukan” di industri K-Pop kembali menjadi perbincangan hangat setelah kabar keluarnya Mark Lee dari grup NCT dan agensinya, SM Entertainment pada 3 April.
Fenomena ini ramai dibahas di media sosial karena dinilai kembali menguatkan pola yang disebut-sebut menimpa banyak grup idola.
Perbincangan ini berawal dari kemunculan istilah “kutukan 7 anggota”, yakni kondisi ketika grup yang awalnya beranggotakan tujuh orang kehilangan satu atau lebih personel seiring berjalannya waktu. Fenomena ini disebut telah terjadi pada lebih dari 30 grup K-Pop.
Mark sendiri dikenal sebagai bagian dari NCT secara keseluruhan serta aktif di subunit NCT 127 dan NCT DREAM. Setelah kepergiannya, formasi NCT DREAM kembali berubah menjadi enam anggota, sehingga masuk dalam daftar grup yang dianggap mengalami pola tersebut.
Sebelumnya, industri K-Pop juga mengenal beberapa “kutukan” lain yang cukup populer. Salah satunya adalah “Kutukan 7 Tahun”, yang merujuk pada kecenderungan grup bubar setelah kontrak awal berakhir. Selain itu, ada pula “Kutukan Kursi Nomor 1” yang kerap dikaitkan dengan peserta acara survival yang gagal debut meski sempat menduduki peringkat teratas di awal kompetisi.
Fenomena “kutukan 7 anggota” tidak hanya terjadi pada NCT DREAM. Sejumlah grup lain juga mengalami perubahan formasi setelah debut dengan tujuh anggota. Beberapa di antaranya termasuk ENHYPEN, RIIZE, hingga INFINITE yang kini beranggotakan enam orang.
Bahkan, dalam beberapa kasus, perubahan formasi terjadi berulang. Ada grup yang kehilangan anggota, kemudian menambah personel baru, namun kembali mengalami kepergian anggota tersebut di kemudian hari.
Meski begitu, tidak semua grup mengalami hal serupa. Beberapa grup tetap mempertahankan formasi awal mereka selama bertahun-tahun. BTS, misalnya, masih beranggotakan tujuh orang sejak debut pada 2013. Hal serupa juga terjadi pada GOT7 yang tetap solid dengan tujuh anggota sejak debut pada 2014.
Viralnya pembahasan ini menunjukkan besarnya perhatian penggemar terhadap dinamika grup K-Pop. Meski istilah “kutukan” lebih bersifat spekulatif, perubahan formasi memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan industri hiburan tersebut.





