JAKARTA, wartametropolitan.com – Eksperimen penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menghadirkan sosok Marilyn Monroe dalam film akhirnya tidak digunakan. Pembuat film Maggie Gyllenhaal mengungkapkan bahwa teknologi tersebut sempat diuji dengan mengubah penampilan Dakota Johnson menjadi ikon Hollywood itu, tetapi hasilnya tidak mampu menandingi kualitas akting sang aktris.

Eksperimen tersebut dilakukan Maggie ketika menggarap film pendek terbarunya berjudul Flesh Impact. Ia awalnya ingin mengetahui sejauh mana teknologi AI dapat digunakan untuk menghadirkan kembali tampilan seorang tokoh terkenal melalui pemeran lain.

Dalam prosesnya, tim produksi melatih sistem AI menggunakan sejumlah film Marilyn Monroe yang telah memperoleh lisensi resmi. Teknologi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menempatkan wajah Marilyn pada wajah Dakota Johnson.

Eksperimen itu rupanya tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Setelah menyaksikan hasil pengolahan AI, Maggie justru merasa penampilan Dakota secara langsung jauh lebih kuat dibandingkan hasil yang dibuat menggunakan teknologi tersebut.

Menurut Maggie, akting Dakota memiliki unsur emosional yang sulit ditiru oleh sistem AI. Ia mengatakan penampilan Dakota terasa “jauh lebih menyentuh, manusiawi, dan hidup”.

Maggie juga menilai eksperimen tersebut belum mampu menghasilkan tampilan yang meyakinkan. Ia menyebut versi yang dibuat menggunakan AI tersebut “pada dasarnya tidak berhasil”.

Atas pertimbangan tersebut, Maggie akhirnya mengurungkan niat untuk memasukkan hasil eksperimen AI ke dalam film Flesh Impact. Ia memilih mempertahankan penampilan dan kemampuan akting Dakota Johnson daripada menggunakan hasil rekayasa teknologi.

Keputusan tersebut sekaligus memperlihatkan pandangan Maggie mengenai batas penggunaan AI dalam proses kreatif perfilman. Baginya, kemampuan teknologi dalam meniru tampilan seseorang belum tentu sejalan dengan kemampuannya menghadirkan emosi dan karakter yang muncul melalui akting manusia.

Kekhawatiran Maggie tidak hanya berkaitan dengan kualitas artistik. Ia juga menyoroti konsekuensi yang lebih luas dari penggunaan AI, salah satunya kebutuhan energi yang besar untuk menjalankan sistem tersebut serta potensi dampaknya terhadap lingkungan.

Selain persoalan lingkungan, Maggie mencermati kemungkinan AI mengubah struktur biaya dalam produksi film. Jika teknologi tersebut mampu membuat proses pembuatan film menjadi jauh lebih murah, kondisi itu dinilai dapat memberikan tekanan bagi pembuat film yang tetap ingin menggunakan metode produksi konvensional.

Eksperimen terhadap Dakota Johnson pun menjadi pengalaman penting bagi Maggie. Alih-alih melihat AI sebagai pengganti aktor, ia justru menemukan bahwa ekspresi, emosi, dan kehidupan yang muncul dari seorang pemeran manusia masih memiliki keunggulan yang sulit direplikasi teknologi.

Bagi Maggie, teknologi AI mungkin dapat membantu menciptakan kemiripan visual dengan seseorang seperti Marilyn Monroe. Namun, hasil eksperimen tersebut menunjukkan bahwa kemiripan wajah belum cukup untuk menggantikan kualitas akting manusia yang menjadi bagian penting dalam sebuah film.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *