
JAKARTA, wartametropolitan.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya menyelesaikan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas budaya Jakarta di tengah transformasi menuju kota global.
Pernyataan itu disampaikan Pramono saat menghadiri Milad ke-25 Forum Betawi Rempug (FBR) di Area Parkir C3 Kemayoran, Jakarta, akhir pekan lalu. Menurutnya, keberadaan Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi menjadi hal penting untuk menjaga warisan budaya masyarakat asli Jakarta.
“Saya ingin betul-betul yang namanya Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi itu ada di Jakarta ini,” kata Pramono.
Pramono menjelaskan, pembentukan lembaga tersebut merupakan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta, khususnya Pasal 31 yang mengatur pelibatan lembaga adat dan kebudayaan Betawi dalam upaya memajukan kebudayaan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Betawi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menerapkan berbagai unsur budaya lokal dalam kegiatan pemerintahan. Salah satunya mewajibkan penggunaan pakaian adat Betawi saat pelantikan pejabat di Balai Kota, yakni Kebaya Encim untuk perempuan dan Ujung Serong bagi laki-laki.
Selain itu, sajian khas Betawi seperti Bir Pletok dan Dodol Betawi juga menjadi hidangan bagi tamu yang berkunjung ke Balai Kota. Pemprov DKI juga terus mendorong penyelenggaraan tradisi Lebaran Betawi, Andilan Kebo, hingga menggagas pelaksanaan haul bagi ulama dan habaib Betawi.
Pramono menegaskan bahwa pembangunan Jakarta sebagai kota global tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga harus berjalan seiring dengan penguatan identitas budaya.
“Upaya mewujudkan Jakarta menuju kota global tidak sekadar pembanguna fisik. Upaya itu juga harus diimbangi dengan penguatan budaya agar tidak tercabut dari akarnya,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono turut mengapresiasi gagasan Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), Lutfhi Hakim, yang mengusulkan penyelenggaraan 500 kali khataman Al-Qur’an oleh masyarakat umum dalam rangka peringatan lima abad Jakarta pada tahun depan.
“Kegiatan yang melibatkan masyarakat dari akar rumput itu merupakan wujud syukur dan doa agar Jakarta ke depan lebih baik,” ujar Pramono.
Menutup sambutannya, Pramono mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghormati proses penyusunan Pergub tersebut dan tidak menjadikannya sebagai polemik ketika nantinya resmi diterbitkan.
“Pergub ini adalah peninggalan kita dalam masa yang panjang,” ucap dia.





