JAKARTA, wartametropolitan.com – Persoalan sampah menjadi salah satu pekerjaan besar yang harus segera ditangani Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Dengan timbulan sampah lebih dari 9.000 ton setiap hari, Jakarta terus mendorong perubahan pola pengelolaan sekaligus mengajak masyarakat dan pihak swasta terlibat dalam penanganannya.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Perubahan pola pengelolaan dari sekadar mengangkut dan membuang sampah kini diarahkan menjadi sistem pilah, angkut, dan olah.

Hal tersebut disampaikan Pramono saat menjadi keynote speaker dalam Local Hero Indonesia Forum 2026 di Grha Ali Sadikin. Ia memaparkan kondisi persampahan Jakarta sekaligus langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Menurut Pramono, komposisi sampah Jakarta didominasi material organik dan plastik. Sampah organik mencapai 49,87 persen, sedangkan sampah plastik berada di angka 22,95 persen dari total timbulan harian.

“Inilah yang menjadi problem kita dan seperti kita ketahui bersama bahwa sejak tanggal 1 Agustus kemarin, Jakarta hanya bisa mengirim residunya ke Bantargebang,” kata Pramono.

Kebijakan pengelolaan sampah kemudian diarahkan untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Bantargebang. Salah satu langkahnya dilakukan melalui Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 yang mendorong penerapan pemilahan sampah dari sumbernya.

Sejak kebijakan tersebut diterapkan, volume sampah yang dikirim ke Bantargebang disebut berkurang lebih dari 500 ton setiap hari. Gerakan memilah sampah juga menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat.

Gerakan pilah sampah yang dicanangkan pada 10 Mei 2026 membuat jumlah rumah tangga yang melakukan pemilahan meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen. Angka tersebut menunjukkan semakin banyak warga yang mulai memisahkan sampah sejak dari rumah.

Pengelolaan sampah organik juga mengalami peningkatan. Aktivitas pengolahan yang sebelumnya dilakukan melalui 2.247 bank sampah terus diperkuat untuk mengurangi sampah yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir.

“Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah pengelolaan sampah organik yang dulunya ada di 2.247 bank sampah, naik dari 1.046 ton menjadi 1.432 ton,” tutur dia.

Pramono menilai konsistensi menjadi faktor penting agar perubahan pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai gerakan sesaat. Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan sejumlah fasilitas pengolahan, termasuk RDF Plant Rorotan dan TPS 3R.

Selain fasilitas tersebut, Jakarta berencana membangun pembangkit listrik tenaga sampah di tiga lokasi. Pemerintah juga membuka ruang bagi sektor swasta untuk ikut berperan dalam pengelolaan sampah.

“Karena untuk menyelesaikan persoalan sampah tidak bisa sendirian,” ucap Pramono.

Semangat kolaborasi tersebut turut menjadi fokus Local Hero Indonesia Forum 2026 yang mengusung tema “From Campaign to Collaboration: Strengthening Multi-Stakeholder Partnership for Sustainable Waste Management”.

Pendiri dan Pimpinan Indonesia Water Institute Firdaus Ali mengatakan pihaknya mendorong kampanye ‘Merdeka dari Sampah’ melalui Local Hero Recycle Challenge. Program tersebut mengajak masyarakat memulai pengelolaan sampah melalui tindakan sederhana di lingkungan rumah.

“Salah satunya dengan menggunakan kembali dan mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai tetapi masih punya nilai ekonomi,” ujar Firdaus.

Local Hero Recycle Challenge diikuti 191 karya dari berbagai wilayah Indonesia. Pesertanya berasal dari beragam kalangan, mulai dari pelajar, guru, ibu rumah tangga, komunitas RT dan RW hingga pelaku usaha kecil.

“Dari kegiatan ini kita melihat bahwa masyarakat sebenarnya mau bergerak dan melakukan sesuatu untuk lingkungan kita,” tuturnya.

Menurut Firdaus, gerakan masyarakat perlu diperluas melalui kemitraan dengan berbagai pihak. Forum tersebut diharapkan menjadi jembatan untuk membawa aksi-aksi kecil di tingkat masyarakat menjadi gerakan yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Melalui forum ini, kita ingin membawa aksi tersebut lebih jauh dengan mempertemukan berbagai pihak untuk mendorong kerja sama yang bisa terus dilanjutkan,” ucap dia.

Dengan meningkatnya partisipasi warga dalam memilah sampah, pengurangan volume sampah yang dikirim ke Bantargebang, serta pengembangan fasilitas pengolahan, Jakarta berupaya membangun sistem persampahan yang lebih berkelanjutan. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha menjadi bagian penting agar persoalan sampah dapat ditangani dari hulu hingga hilir.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *