
JAKARTA, wartametropolitan.com – Film Korea The Journey to Gyeongju langsung mencuri perhatian sejak hari pertama penayangannya. Mengusung perpaduan drama keluarga, perjalanan, dan kisah balas dendam, film ini berhasil menduduki posisi teratas di antara film Korea lainnya pada debutnya di bioskop.
Berdasarkan data sistem box office terintegrasi Dewan Film Korea, The Journey to Gyeongju menempati peringkat pertama di antara film produksi Korea pada 26 Agustus, tepat ketika film tersebut resmi tayang. Pencapaian itu diraih di tengah persaingan dengan berbagai film asing yang juga beredar di bioskop.

Respons penonton pun sangat antusias. ‘The Journey to Gyeongju’ mencatatkan peringkat ‘Golden Egg’ sebesar 93% di CGV dan nilai 9,63/10 dari penonton terverifikasi di Naver, yang menunjukkan tingkat kepuasan penonton yang tinggi.
The Journey to Gyeongju merupakan film road movie bertema balas dendam yang mengisahkan seorang ibu yang mengetahui bahwa pria yang bertanggung jawab atas kematian putri bungsunya telah dibebaskan dari penjara. Ia pun berangkat ke Gyeongju bersama ketiga putrinya untuk melancarkan aksi balas dendam.
Delapan tahun lalu, sang putri bungsu, Gyeongju, pergi mengikuti karyawisata sekolah namun tidak pernah kembali. Pada hari ulang tahunnya, sang ibu, Oksil, bersama ketiga putrinya—Jangju, Youngju, dan Dongju—mengenakan kaus seragam dan memulai perjalanan yang tampak seperti liburan keluarga yang ceria menuju Gyeongju. Namun, ada seseorang yang bersembunyi di bagasi mobil van mereka.
Perjalanan itu hanyalah alibi. Tujuan mereka yang sebenarnya adalah balas dendam. Keluarga tersebut telah merencanakan perjalanan ini dengan cermat demi satu tujuan: membunuh pria yang bertanggung jawab atas kematian Gyeongju.
Gyeongju dibunuh. Ayahnya, yang sangat terpukul atas kematian putri bungsunya, mengasingkan diri dari dunia luar. Delapan tahun kemudian, Oksil mulai mencari sang pembunuh bersama ketiga putrinya yang lain—kakak-kakak perempuan Gyeongju. Setelah berhasil melacak keberadaan pelaku, mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan keluarga tepat pada hari ulang tahun Gyeongju dan menghabisi nyawa pelaku pada peringatan hari kematiannya.
Lee Jung Eun berperan sebagai Lee Oksil, seorang wanita biasa yang menjalankan usaha permak pakaian bernama “Ok Fashion” di lingkungannya. Setelah kehilangan putri bungsu dan suaminya, ia menghabiskan waktu delapan tahun dalam cengkeraman duka, rasa bersalah, dan satu-satunya hasrat untuk membalas dendam.
Dalam acara presentasi produksi yang digelar pada 27 Juli, sutradara sekaligus penulis naskah Kim Mi Jo membagikan detail mengenai film ‘The Journey to Gyeongju’.
“Film ini berkisah tentang sebuah keluarga—yang terdiri dari seorang ibu dan tiga anak perempuannya—yang akhirnya pergi ke Gyeongju untuk membalas dendam, setelah menanti selama delapan tahun kabar dari putri bungsu mereka, Gyeongju, yang pergi karyawisata ke sana namun tak pernah kembali,” kata Kim.
Sang sutradara mengungkapkan bahwa dia sendiri merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, dan mengatakan bahwa ide cerita ini muncul setelah ia melakukan perjalanan keluarga ke Gyeongju suatu hari.
“Saya mendapati bahwa Gyeongju memiliki dua sisi yang sangat kontras,” ujarnya.
Meskipun kebanyakan orang mengaitkan Gyeongju dengan karyawisata dan pariwisata, Kim mencatat bahwa suasananya berubah drastis antara siang dan malam; kota itu menjadi suram dan mencekam setelah hari gelap.
“Saya merasa karakteristik unik Gyeongju sebagai sebuah tempat benar-benar mampu menggambarkan kisah perjalanan sebuah keluarga yang berniat melakukan pembunuhan,” ucap dia.





