
JAKARTA, WartaMetropolitan.com – Membuka Tahun Baru 2026, Ade Fitrie Kirana mengingatkan masyarakat akan dampak konten negatif pada mental anak. Menurutnya, awal tahun bisa menjadi momentum refleksi untuk menata ulang ekosistem informasi yang setiap hari dikonsumsi generasi muda.
Ade Fitrie Kirana yang dikenal konsisten memperjuangkan isu perempuan dan anak ini menilai, memasuki awal tahun, ruang digital kembali dipenuhi beragam konten hiburan, termasuk gosip artis dan sensasi yang kerap viral di media sosial.
Dia pun khawatir hal ini akan dampaknya terhadap kesehatan mental anak dan remaja yang semakin intens terpapar dunia digital.
“Gosip, konflik personal, dan konten yang memancing emosi mungkin terlihat ringan bagi orang dewasa, tapi bagi anak-anak itu bisa membentuk cara pandang yang keliru tentang kehidupan, relasi, dan nilai diri,” kata Ade.
Dijelaskannya, anak-anak dan remaja saat ini tumbuh di tengah banjir informasi yang nyaris tanpa jeda. Namun, tanpa pendampingan yang memadai, mereka berisiko menyerap standar emosi dan perilaku yang tidak sehat, mulai budaya saling menjatuhkan, normalisasi konflik, hingga pencarian validasi berlebihan.
“Konten negatif bukan hanya soal kata-kata kasar atau visual ekstrem. Gosip yang terus diulang, drama personal yang dieksploitasi, juga bisa menanamkan kecemasan, rasa tidak aman, dan kebingungan identitas pada anak,” tutur Ade.
Lebih jauh, Ade mengatakan konsumsi gosip yang berlebihan dapat mengganggu fokus anak, memicu perbandingan sosial yang tidak realistis, serta memperlemah empati. Anak-anak bisa tumbuh dengan anggapan bahwa popularitas, konflik, dan sensasi adalah ukuran keberhasilan dan kebahagiaan. Karena itu, dia mengajak orang tua, pendidik, kreator konten, hingga platform digital untuk mengambil peran aktif di awal tahun ini.
Bukan dengan melarang secara kaku, melainkan dengan membangun literasi digital, pendampingan emosional, serta menyediakan alternatif konten yang lebih sehat dan mendidik.
“Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk membersihkan ruang digital kita. Anak-anak butuh contoh bahwa hiburan tidak harus melukai, dan informasi tidak harus merusak mental,” ujar dia.
Ade juga menekankan pentingnya keteladanan orang dewasa dalam memilah dan menyikapi konten.
Cara orang tua bereaksi terhadap gosip, konflik publik, dan sensasi digital akan menjadi cermin bagi anak-anak dalam memahami dunia. Dia berharap Tahun Baru bisa menjadi titik balik menuju ruang digital yang lebih ramah anak.
“Kita mungkin tidak bisa mengontrol semua konten, tapi kita bisa menguatkan anak-anak dengan nilai, empati, dan kesadaran sejak dini,” ucap Ade.





