JAKARTA, wartametropolitan.com – Aktor sekaligus pembuat film Mel Gibson minta maaf setelah gesturnya dalam acara FanExpo Canada di Toronto memicu kontroversi. Tindakannya saat berada di dekat seorang penerjemah Bahasa Isyarat Amerika atau ASL mendapat sorotan karena dinilai menyerupai gerakan yang dilakukan penerjemah tersebut.

Peristiwa itu terjadi ketika FanExpo Canada berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, Gibson terlihat naik ke panggung dari belakang penerjemah yang sedang menjalankan tugasnya.

Gibson kemudian sempat menggerakkan tangannya dengan gerakan yang dinilai menyerupai isyarat sang penerjemah. Setelah itu, aktor 70 tahun itu duduk untuk mengikuti sesi diskusi panel.

Rekaman singkat tersebut kemudian menyebar luas melalui media sosial. Sejumlah pengguna mengecam tindakan Gibson dan menilai gestur tersebut tidak pantas, bukan hanya terhadap penerjemah, tetapi juga komunitas tunarungu secara lebih luas.

Gibson memberikan tanggapan terhadap kritik tersebut melalui pernyataan yang dirilis pada Senin, 31 Agustus 2026. Ia menyebut tindakan tersebut terjadi secara spontan dan tidak disertai maksud untuk menyakiti atau menghina pihak tertentu.

“Terkadang, saat Anda didorong ke atas panggung di bawah sorotan lampu, pikiran Anda bisa menjadi kacau, dan terkadang tindakan bodoh yang spontan dan tanpa pikir panjang bisa saja terjadi. Tidak ada niat jahat di baliknya, dan saya tentu saja meminta maaf kepada siapa pun yang merasa tersinggung karenanya.”

Meski permintaan maaf telah disampaikan, reaksi negatif belum sepenuhnya mereda. Sebagian pengguna media sosial menilai penjelasan Gibson belum cukup untuk meredakan persoalan yang muncul.

Salah satu pengguna bahkan meminta FanExpo Canada menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada penerjemah dan komunitas tunarungu. Momen tersebut disebut sebagai tindakan yang “sangat tidak menghargai” dan dinilai mengandung unsur diskriminatif terhadap penyandang disabilitas atau ableist.

Kontroversi tersebut muncul di tengah agenda Gibson sebagai pembicara dalam acara FanExpo Canada. Dalam sesi bersama moderator Liam Crowley, ia membahas perjalanan kariernya di industri perfilman.

Sejumlah karya yang menjadi pembahasan antara lain Mad Max dan Lethal Weapon. Gibson juga berbicara mengenai proyek lanjutan Passion of the Christ yang telah lama dikembangkan.

Sekuel tersebut berjudul The Resurrection of the Christ dan diperkirakan akan dirilis pada 2027. Proyek itu menjadi salah satu pembahasan dalam sesi Gibson bersama para pengunjung acara.

Peristiwa di FanExpo Canada juga kembali mengingatkan publik pada sejumlah kontroversi yang pernah melibatkan Gibson sepanjang kariernya. Pada 2006, ia pernah ditangkap karena mengemudi dalam keadaan mabuk atau DUI.

Dalam kasus tersebut, Gibson diketahui melontarkan komentar antisemit kepada petugas kepolisian. Beberapa tahun kemudian, pada 2010, muncul rekaman yang berisi ucapan rasis dan ancaman terhadap mantan kekasihnya, Oksana Grigorieva.

Kini, Gibson kembali menjadi perhatian setelah gesturnya terhadap penerjemah ASL menuai kritik. Ia telah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan tidak memiliki niat buruk, sementara perdebatan publik mengenai tindakannya masih berlangsung di media sosial.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *