
JAKARTA, wartametropolitan.com – Di balik momentum Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, terdapat perjuangan panjang yang tidak selesai hanya dengan pembacaan Proklamasi, dari proses pendidikan, pergerakan, perdebatan politik hingga diplomasi yang ikut membentuk gagasan para tokoh bangsa.
Salah satunya dapat ditelusuri melalui otobiografi Kesadaran Nasional karya Ahmad Subardjo, di mana Yayasan Ahmad Subardjo menerbitkan kembali buku yang pertama kali hadir pada 1978 itu dalam Edisi Kedua. Peluncuran dilakukan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Sabtu (29/8).
Karya yang ditulis langsung oleh Ahmad Subardjo itu mengisahkan perjalanan hidupnya sejak menempuh pendidikan hingga terlibat dalam berbagai aktivitas pergerakan di Eropa. Pengalamannya bersama Perhimpunan Indonesia menjadi bagian penting dari proses yang kemudian membawanya terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme.
Catatan tersebut tidak berhenti pada masa pergerakan. Ahmad Subardjo juga menuturkan keterlibatannya dalam rangkaian peristiwa menjelang Proklamasi serta kiprahnya setelah Indonesia merdeka, termasuk ketika menjalankan peran dalam pemerintahan dan diplomasi Republik Indonesia.
Penerbitan edisi kedua menjadi upaya untuk membuat kesaksian tersebut kembali mudah diakses. Pasalnya, edisi pertama yang diterbitkan hampir lima dekade lalu kini sulit ditemukan. Dalam penerbitan ulang ini, penyajian buku diperbarui agar lebih nyaman dibaca, sedangkan isi dan kesaksian dari karya asli tetap dipertahankan.
Nilai penting buku tersebut tidak hanya terletak pada kisah mengenai peristiwa sejarah. Kesadaran Nasional juga memperlihatkan bagaimana pengalaman Ahmad Subardjo membentuk pandangannya mengenai kemandirian bangsa, persatuan dan hak Indonesia untuk menentukan masa depannya sendiri.
Berbagai pengalaman selama menempuh pendidikan, berada di luar negeri, berinteraksi dengan kelompok pergerakan, serta menyaksikan perubahan politik menjadi bagian dari proses pembentukan kesadaran tersebut. Dari sanalah tumbuh keberanian untuk mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan hingga menjalankan tugas di pemerintahan dan diplomasi.
Pemilihan Museum Perumusan Naskah Proklamasi sebagai lokasi peluncuran pun memiliki kaitan erat dengan perjalanan Ahmad Subardjo. Bangunan yang dahulu merupakan kediaman Laksamana Tadashi Maeda itu menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah menjelang lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Kepala Badan Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta Kementerian Kebudayaan, Desse Yussubrasta, mengingatkan keterlibatan Ahmad Subardjo dalam peristiwa bersejarah di tempat tersebut.
“Keberadaan Bapak Ahmad Subardjo hanya hitungan jam berada di museum ini saat merumuskan naskah proklamasi. Ini peninggalan sejarah bangsa Indonesia yang tak terlupakan,” kata Desse.
Pada malam 16 Agustus 1945, perumusan naskah Proklamasi berlangsung di kediaman Maeda. Ahmad Subardjo sebelumnya berperan membantu mempertemukan pandangan golongan muda dan golongan tua dalam situasi yang menegangkan menjelang kemerdekaan.
Keesokan harinya, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan pada 17 Agustus 1945. Karena itu, peluncuran Kesadaran Nasional di museum tersebut menghadirkan keterhubungan antara tempat berlangsungnya sejarah, kesaksian tokoh yang terlibat, dan generasi masa kini yang membaca kembali pengalaman tersebut.
Dari perspektif diplomasi, Ahmad Subardjo juga memiliki posisi penting dalam perjalanan awal Republik Indonesia. Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, R. Heru Hartanto Subolo, menilai penerbitan kembali otobiografi tersebut dapat menjadi penghubung antara pengalaman para perintis bangsa dengan masa depan Indonesia.
“Buku ini jembatan yang menghubungkan sejarah diplomasi kita dengan masa depan,” ujar Heru.
Bagi Heru, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak dapat dipisahkan dari diplomasi. Ahmad Subardjo dinilai memiliki peran dalam membangun fondasi diplomasi Indonesia ketika negara yang baru berdiri harus memperjuangkan pengakuan dan kepentingan nasional di tengah dinamika internasional.
“Bagi Kementerian Luar Negeri, Bapak Ahmad Subardjo adalah bagian dari DNA diplomasi Indonesia,” katanya.
Pandangan tersebut menempatkan Ahmad Subardjo bukan hanya sebagai tokoh yang berada di sekitar peristiwa Proklamasi, tetapi juga sebagai salah satu peletak awal tradisi diplomasi Republik Indonesia.
Dalam acara peluncuran, mantan Menteri Luar Negeri RI Dr. Hassan Wirajuda mengaitkan pengalaman Ahmad Subardjo dengan pekerjaan diplomasi Indonesia yang masih berlangsung hingga sekarang. Bagi generasi perintis kemerdekaan, diplomasi merupakan bagian dari perjuangan untuk memastikan Indonesia dapat berdiri sebagai negara berdaulat dan memperoleh tempat dalam hubungan internasional.
Kemerdekaan tidak serta-merta mengakhiri perjuangan tersebut. Menjaga kedaulatan, memperjuangkan kepentingan nasional, melindungi warga negara Indonesia, serta menghadapi perubahan geopolitik merupakan pekerjaan yang terus berlangsung. “Diplomasi belum selesai,” ujarnya.
Pesan Hassan tersebut menjadi penghubung antara apa yang dikerjakan Ahmad Subardjo pada masa awal Republik dengan tantangan yang dihadapi Indonesia sekarang. Apa yang dimulai oleh generasi perintis diteruskan oleh generasi berikutnya.
Persoalan lain yang muncul dalam peluncuran adalah bagaimana pengalaman sejarah tersebut dapat sampai kepada generasi yang tidak pernah mengalami langsung peristiwa yang diceritakan.
Sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali, melihat penyampaian sejarah kepada anak muda sebagai bagian penting dari pekerjaan kebudayaan. Sejarah perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan mereka, mudah diakses, tetapi tetap membawa konteks dan makna dari peristiwa yang dipelajari.
Dalam konteks Ahmad Subardjo, yang perlu dipahami anak muda bukan hanya siapa tokohnya atau kapan sebuah peristiwa terjadi, tetapi bagaimana para tokoh membaca keadaan, menghadapi perbedaan, mengambil keputusan dan menanggung risikonya.
“Sejarah harus menjadi konsumsi anak muda,” kata dia.
Pandangan tersebut menjadi penting ketika membaca kembali pengalaman menjelang Proklamasi. Perbedaan antara golongan muda dan pemimpin senior pada saat itu bukan mengenai tujuan—keduanya menghendaki kemerdekaan—melainkan mengenai waktu, cara, dan risiko. Dalam situasi tersebut, Ahmad Subardjo mengambil posisi sebagai jembatan dan berusaha mencegah perbedaan berkembang menjadi perpecahan.
Kemerdekaan dengan demikian tidak hanya berbicara mengenai keberanian, tetapi juga kemampuan berpikir, berdialog, bernegosiasi dan mengambil keputusan.
Perspektif berikutnya datang dari Amanda Katili Niode, Ph.D., kurator karya biografi dan memoar, penulis dan editor, yang juga pernah memimpin Tim Ahli Utusan Khusus Presiden RI untuk Perubahan Iklim. Dalam peluncuran ini Amanda menyusun Jejak Kata dari Penulis dan esensi buku Kesadaran Nasional.
Menurut Amanda, membaca otobiografi seorang pelaku sejarah bukan berarti menerima seluruh ceritanya begitu saja. Kesaksian tetap perlu ditempatkan bersama sumber-sumber lain dan dibaca secara kritis agar pembaca dapat memahami konteks serta melihat sebuah peristiwa dari berbagai sisi.
Di dalam Kesadaran Nasional juga terdapat gagasan mengenai self-reliance, self-help, dan self-determination—kemandirian, kemampuan mengandalkan kekuatan sendiri, serta hak untuk menentukan masa depan bangsa.
Sejarah, dalam pandangan ini, bukan sekadar bahan untuk mengingat masa lalu. Ia dapat menjadi latihan untuk memahami sebab-akibat, membaca situasi, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan melihat bagaimana sebuah keputusan diambil dalam keadaan yang tidak selalu pasti.
Tiga perspektif yang muncul dalam peluncuran tersebut saling melengkapi. Heru Subolo melihat buku ini sebagai jembatan antara sejarah diplomasi dan masa depan. Hassan Wirajuda mengingatkan bahwa “diplomasi belum selesai.” Asep Kambali menekankan bahwa sejarah perlu menjadi konsumsi anak muda, sementara Amanda Katili Niode mengajak pembaca menggunakan sejarah untuk “berpikir cerdas.”
Bagi keluarga, penerbitan kembali buku ini juga merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan pemikiran Ahmad Subardjo.
“Bagi kami, menerbitkan kembali buku ini merupakan sebuah amanah sekaligus bagian dari kelanjutan perjuangan dan cita-cita para pendiri bangsa. Generasi muda jangan sampai lepas dari sejarah, karena dari sejarah kita memiliki pijakan untuk memahami siapa kita dan ke mana bangsa ini akan melangkah. Kesadaran Nasional merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang perlu terus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Semoga buku ini menjadi contoh dan inspirasi bagi generasi muda kita untuk memiliki cita-cita yang tinggi, memperluas wawasan, berani melangkah ke dunia internasional, dan pada akhirnya menggunakan ilmu serta pengalamannya untuk berbakti kepada nusa dan bangsa,” kata Hutomo Said, Ketua Yayasan Ahmad Subardjo, cucu Ahmad Subardjo.
Dengan diterbitkannya kembali Kesadaran Nasional, pengalaman Ahmad Subardjo dibuka kembali kepada pembaca yang lahir jauh setelah Proklamasi. Buku ini bukan hanya membawa cerita tentang masa lalu, tetapi memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah bangsa dibangun melalui pemikiran, perbedaan pandangan, keberanian mengambil keputusan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan diplomasi.






