
JAKARTA, wartametropolitan.com – Misteri mengenai keberadaan Bahtera Nabi Nuh kembali menjadi perbincangan setelah tim peneliti mengungkap hasil pemindaian terbaru terhadap sebuah formasi berbentuk perahu di Turki. Teknologi radar penembus tanah disebut mendeteksi sejumlah struktur yang terkubur di bawah permukaan formasi tersebut.
Objek yang menjadi perhatian berada di formasi Durupinar, wilayah Turki bagian timur. Lokasinya sekitar 30 kilometer di sebelah selatan Gunung Ararat, kawasan yang selama puluhan tahun kerap dikaitkan dengan pencarian Bahtera Nabi Nuh.
Pemindaian menggunakan teknologi ground-penetrating radar (GPR) tiga dimensi. Dari pemeriksaan tersebut, peneliti menyatakan menemukan pola yang berbeda dari sekadar formasi batuan biasa.
Sejumlah struktur bersudut, koridor, serta ruang yang saling terhubung dilaporkan terlihat di bawah permukaan. Temuan itu disebut berada pada kedalaman sekitar 6 meter dan diduga membentuk beberapa tingkatan di dalam struktur yang memiliki panjang sekitar 157 meter.
Ukuran tersebut menjadi salah satu alasan munculnya dugaan bahwa formasi Durupinar memiliki keterkaitan dengan kisah Bahtera Nabi Nuh. Panjang struktur yang terdeteksi dinilai mendekati ukuran bahtera sebagaimana yang selama ini menjadi rujukan dalam berbagai pembahasan mengenai pencarian bahtera tersebut.
Selain menggunakan pemindaian radar, tim peneliti juga merujuk pada hasil pengujian tanah dari kawasan tersebut. Mereka menyebut kandungan materi organik yang ditemukan di area formasi lebih banyak dibandingkan lingkungan di sekitarnya.
Materi organik tersebut kemudian dipertimbangkan sebagai kemungkinan sisa bahan organik yang telah mengalami pelapukan selama ribuan tahun. Salah satu dugaan yang muncul adalah material tersebut dapat berkaitan dengan kayu kuno.
Meski demikian, temuan tersebut belum dapat dijadikan bukti final mengenai keberadaan Bahtera Nabi Nuh. Klaim tersebut masih berada dalam tahap penelitian dan belum mengakhiri perdebatan panjang mengenai asal-usul formasi Durupinar.
Kalangan ahli geologi sebelumnya lebih banyak memandang formasi tersebut sebagai bentukan alam. Struktur itu dinilai dapat terbentuk melalui proses geologi, termasuk lipatan batuan, aliran lumpur, serta erosi yang berlangsung dalam waktu lama.
Penelitian geologi terdahulu bahkan menyimpulkan bahwa formasi Durupinar bukan merupakan sisa sebuah kapal. Karena itu, hasil pemindaian terbaru masih perlu diuji dan dikaji lebih lanjut sebelum dapat memberikan kesimpulan yang lebih kuat.
Hal penting lainnya adalah hasil pemindaian terbaru tersebut belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang telah melalui proses tinjauan sejawat (peer-reviewed). Sampai saat ini juga belum ditemukan bukti material buatan manusia seperti potongan kayu, logam, maupun artefak lain yang dapat memastikan bahwa struktur tersebut merupakan peninggalan sebuah kapal.
Tim peneliti masih berencana melanjutkan penyelidikan terhadap struktur bawah tanah yang terdeteksi. Pemeriksaan lanjutan diharapkan dapat membuka akses ke ruang-ruang yang berada di bawah formasi sekaligus memungkinkan pengambilan sampel tambahan.
Dengan demikian, temuan radar di Turki kembali membuka babak baru pencarian Bahtera Nabi Nuh. Namun, untuk saat ini, struktur di Formasi Durupinar masih sebatas dugaan dan membutuhkan pembuktian ilmiah lebih lanjut sebelum dapat disebut sebagai bahtera yang selama ini dicari.





