
JAKARTA, wartametropolitan.com – Aktivitas mobilitas warga Jakarta setiap hari ternyata menyimpan peluang besar untuk memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan. Transjakarta mencatat sekitar 1,5 juta perjalanan pelanggan setiap hari, sekaligus menjadi momentum untuk mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik yang lebih ramah lingkungan.
Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta Mohamad Deddy Gamawan menilai, besarnya jumlah pelanggan menunjukkan bahwa pilihan moda transportasi memiliki pengaruh terhadap keberlanjutan kota. Semakin tinggi penggunaan transportasi umum, semakin besar pula peluang mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
“Setiap hari ada 1,5 juta perjalanan yang dilakukan bersama Transjakarta. Ini bukan sekadar angka, tetapi 1,5 juta kesempatan untuk memilih mobilitas yang lebih berkelanjutan. Ketika semakin banyak masyarakat beralih ke transportasi publik, semakin besar pula kontribusi yang dapat kita berikan untuk mengurangi emisi dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat,” kata Deddy.
Dega, sapaan akrabnya mengatakan Transjakarta terus mempercepat transformasi menuju transportasi publik rendah emisi untuk menjawab kebutuhan mobilitas yang semakin besar sekaligus menekan dampak lingkungan.
Ia menyebut, Transjakarta telah mengoperasikan 500 bus listrik dari lebih dari 4.620 armada yang melayani masyarakat Jakarta dan sekitarnya saat ini. Jumlah tersebut terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menjelaskan, Transjakarta mengoperasikan 100 bus listrik pada 2023, meningkat menjadi 300 unit pada 2024, dan mencapai 500 unit pada 2025. Ke depan, Transjakarta menargetkan 50 persen armada terelektrifikasi pada 2027 dan 100 persen bus listrik pada 2030.
“Elektrifikasi merupakan salah satu langkah konkret kami untuk menghadirkan transportasi publik yang semakin rendah emisi. Transformasi ini tidak berhenti pada jumlah bus listrik, tetapi juga bagaimana kami menghadirkan layanan yang nyaman dan menjadi pilihan masyarakat dalam kesehariannya,” katanya.
Dega menuturkan, selain berkontribusi terhadap pengurangan emisi, penggunaan bus listrik memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman karena karakteristiknya yang lebih senyap.
Berdasarkan sumber WRI Indonesia sebagai bagian dari TUMI E-Bus Mission 2022 yang tercantum dalam materi Transjakarta, penggunaan bus listrik dibandingkan mobil berbahan bakar bensin berpotensi menghasilkan pengurangan emisi hingga 99,9 persen.
Dega mengatakan, upaya menciptakan mobilitas yang lebih hijau juga tidak dapat dilakukan hanya melalui elektrifikasi armada. Integrasi antarmoda menjadi bagian penting agar masyarakat memiliki pilihan perjalanan yang semakin mudah dan seamless.
“Transjakarta terus mengembangkan konsep urban multimodal transport melalui integrasi layanan Transjakarta dengan Mikrotrans serta moda pendukung seperti berjalan kaki, sepeda, dan park and ride. Integrasi tersebut memperkuat konektivitas perjalanan masyarakat dari first mile hingga last mile sekaligus memberikan alternatif terhadap penggunaan kendaraan pribadi,” tuturnya.
Dalam kegiatan International Day of Clean Air tersebut, Transjakarta mengusung semangat ‘Bersama Transjakarta untuk Melangkah Lebih Hijau’ melalui sejumlah aktivasi, di antaranya Green Mobility Talk, Electric Bus Experience, Green Mobility Exhibition, Clean Air Challenge, dan Green Movement.
Dega menegaskan, upaya menciptakan udara yang lebih bersih membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk melalui pilihan sederhana dalam perjalanan sehari-hari.
“Kami percaya perubahan besar dimulai dari pilihan-pilihan sederhana. Memilih naik transportasi publik, berjalan kaki, menggunakan sepeda, dan memanfaatkan layanan yang terintegrasi merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan masyarakat. Jika pilihan tersebut dilakukan bersama oleh jutaan pelanggan setiap hari, dampaknya akan jauh lebih besar,” ucap dia.





