
JAKARTA, wartametropolitan.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggandeng Jazz Goes to Campus (JGTC) menuju perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027. Salah satu langkah strategis ini ditempuh sebagai bagian dari penguatan citra Jakarta sebagai kota global sekaligus berbudaya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Andhika Permata mengatakan Jakarta saat ini tengah memosisikan diri sebagai kota modern yang tetap berakar kuat pada identitas budaya lokal.
“Dalam kacamata Pemprov, Jakarta saat ini positioning-nya adalah sebagai kota global dan berbudaya,” kata Andhika.
Jakarta akan memasuki usia ke-499 tahun pada 22 Juni 2026 dan tahun depan ibu kota akan merayakan tonggak sejarah lima abad perjalanan kota. “Tahun ini Jakarta berumur 499 tahun, dan tahun depan Jakarta genap lima abad atau 500 tahun,” ujar dia.
Sementara, JGTC tahun ini akan dimulai di Taman Ismail Marzuki, tepatnya di Teater Besar pada 25 April 2026. Lewat program The City Series, festival ini tidak hanya soal musik, juga edukasi yang menggabungkan ruang diskusi lintas generasi dan pertunjukan dalam satu pengalaman yang utuh.
Acara akan dibuka dengan sesi talkshow pada pukul 18.30 – 19.30 WIB, dilanjutkan dengan konser utama Jazz Goes To Campus The City Series yang menghadirkan deretan musisi dan arrangers ternama Indonesia.
Talkshow menghadirkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Candra Darusman, Chico Hindarto, Sri Harnurga dan Agus S. Basuni. Diskusi akan membahas perjalanan JGTC dari masa ke masa, dinamika dan skeptisisme terhadap musik jazz, asimilasi jazz dengan identitas lokal, termasuk unsur Betawi.
Dengan memadukan edukasi, refleksi dan pertunjukan, Jazz Goes To Campus ingin menghadirkan jazz sebagai bagian dari denyut kehidupan kota, bukan hanya untuk dinikmati, juga untuk dipahami dan dirayakan bersama.
Salah satu panelis Jazz Goes To Campus The City Series, Candra Darusman mengatakan The City Series ini dirancang sebagai rangkaian kegiatan yang berjalan paralel dengan Jazz Goes To Campus di kampus.
“Formatnya berseri, dan kami rencanakan seri berikutnya akan kembali hadir pada akhir Juli. Kami juga ingin menegaskan bahwa jazz tidak hanya terbatas pada jazz pop, tetapi juga mencakup spektrum yang lebih luas, termasuk mainstream jazz. Tahun ini, penyelenggaraan The City Series juga memiliki keterkaitan dengan momentum perayaan HUT DKI Jakarta,” kata Candra.
Sementara, konser utama yang menampilkan kolaborasi spesial dari para arrangers kenamaan Indonesia, seperti Erwin Gutawa, Tohpati, Ari Renaldi, Adra Karim. Kemegahan suara akan dihadirkan melalui iringan Bandung Jazz Orchestra yang memberikan tekstur musik big bandyang padat, berpadu harmonis dengan vokal dari Alonzo dan Rose Maryjane. Perpaduan antara musisi senior dan talenta muda ini mencerminkan visi JGTC dalam menjaga kontinuitas genre jazz di Indonesia agar tetap segar dan bisa diterima oleh telinga generasi masa kini.
Secara teknis, konser ini menjanjikan kualitas produksi yang sangat tinggi dengan sentuhan visual modern dan artistik yang disesuaikan dengan tema setiap aransemen lintas genre yang dibawakan.
Kehadiran para maestro ini menegaskan bahwa “The City Series” bukan sekadar konser biasa, melainkan sebuah pernyataan seni bahwa jazz tetap bisa tampil megah sekaligus inklusif di ruang publik yang prestisius seperti Taman Ismail Marzuki.
The City Series menjadi langkah JGTC untuk memperluas jangkauan audiens, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu festival jazz yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar artistiknya.
“The City Series menjadi langkah JGTC untuk memperluas jangkauan audiens, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu festival jazz yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar artistiknya,” kata Untung Pranoto.




